NARASITODAY.COM, KAHRAMANMARAS – Suasana belajar mengajar di sebuah sekolah menengah pertama (SMP) di Provinsi Kahramanmaras, Turki tenggara, yang semula tenang berubah menjadi horor mencekam pada Rabu (15/4/2026). Seorang siswa laki-laki berusia 14 tahun melepaskan tembakan membabi buta yang menewaskan sedikitnya sembilan orang dan melukai 13 lainnya.
Insiden memilukan ini merupakan penembakan sekolah kedua yang mengguncang Turki hanya dalam kurun waktu 48 jam.
Detik-Detik Mencekam di Ruang Kelas
Laporan lapangan menggambarkan situasi kacau saat suara tembakan mulai memecah keheningan koridor sekolah. Rekaman CCTV memperlihatkan pelaku berjalan di lorong sambil mengarahkan senjata, sementara video amatir menangkap momen kepanikan luar biasa di mana sejumlah siswa nekat melompat dari jendela lantai dua demi menghindari maut.
Gubernur Kahramanmaras, Mukerrem Unluer, mengungkapkan bahwa pelaku telah mempersiapkan aksi ini dengan membawa persenjataan lengkap di dalam tasnya.
“Seorang siswa kelas delapan datang dengan lima senjata dan tujuh magazin, yang kami yakini milik ayahnya yang mantan polisi, masuk ke dua ruang kelas berisi siswa kelas lima, menyebabkan korban jiwa dan luka secara acak,” jelas Unluer.
Pelaku akhirnya mengakhiri hidupnya sendiri di lokasi kejadian setelah melakukan aksi keji tersebut.
Duka bagi Keluarga Korban
Menteri Dalam Negeri Turki, Mustafa Ciftci, mengonfirmasi bahwa korban tewas terdiri dari delapan siswa dan satu guru. Sebagian besar korban adalah anak-anak kelas lima yang baru menginjak usia 10 hingga 11 tahun. Dari 13 korban luka, enam di antaranya dilaporkan masih dalam kondisi kritis.
Meskipun terjadi di wilayah yang sensitif, pemerintah menegaskan bahwa motif serangan ini tidak terkait dengan jaringan teroris mana pun.
“Ini murni serangan pribadi yang dilakukan oleh salah satu siswa kami, ini bukan insiden teror,” ujar Ciftci kepada wartawan pada Kamis (16/4/2026).
Darurat Keamanan dan Regulasi Senjata
Tragedi ini memicu perdebatan mengenai kepemilikan senjata api di Turki. Secara hukum, hanya warga berusia di atas 21 tahun dengan izin ketat yang boleh memiliki senjata. Namun, kenyataan bahwa pelaku menggunakan senjata milik ayahnya yang merupakan mantan polisi menunjukkan adanya celah dalam pengawasan.
Sebagai informasi, insiden ini terjadi hanya sehari setelah serangan serupa di Provinsi Sanliurfa, di mana seorang mantan siswa melukai 16 orang sebelum melakukan bunuh diri.
Saat ini, kepolisian telah menahan ayah pelaku untuk dimintai keterangan lebih lanjut terkait bagaimana remaja 14 tahun tersebut bisa mengakses lima senjata api sekaligus. Pemerintah Turki berjanji akan melakukan langkah pencegahan darurat agar lingkungan pendidikan tidak lagi menjadi medan pertumpahan darah.***
Editor : Alysa
Sumber : cnbcindonesia.com














