Politik dan Kekuasaan Mengendalikan Kebijakan Nuklir Dan Mengapa Israel Dilindungi dan Iran Diserang

0
nuklir
Ilustrasi Hubungan antara bendera Iran dan Israel.Foto : Istock

NARASITOPDAY.COM, TEHERAN – Langit Timur Tengah yang kian pekat oleh asap mesiu, sebuah kontras tajam tersaji di panggung diplomasi nuklir dunia. Sementara dunia internasional terus memelototi setiap gram uranium di Iran, sebuah kekuatan nuklir lain duduk dalam sunyi tanpa inspeksi dari Israel.

Selama 10 bulan terakhir, agresi militer yang dipimpin Israel bersama Amerika Serikat telah mengguncang Iran. Alasannya klasik namun mematikan yaitu mencegah Teheran memiliki bom atom. Namun, di balik reruntuhan yang merenggut lebih dari 2.600 nyawa warga Iran dan memicu krisis energi global, tersimpan sebuah ironi besar yang oleh para pengamat disebut sebagai “standar ganda” yang kronis.

Kabut di Dimona: Kekuatan Tanpa Inspeksi

Berbeda dengan Iran yang fasilitasnya dipenuhi kamera pemantau internasional, program nuklir Israel tetap menjadi “rahasia umum” yang tak tersentuh. Tersembunyi di gurun Negev, fasilitas nuklir Dimona diyakini sebagai dapur pembuatan plutonium sejak era 1950-an.

Baca Juga :  Wanita Paruh Baya di Rumpin Bogor Dibunuh Keponakannya dengan Linggis

Strategi Israel adalah “ambiguitas”. Mereka tidak mengakui, namun juga tidak menampik. Perdana Menteri Benjamin Netanyahu pada 2018 memberikan jawaban yang tetap menjadi teka-teki hingga hari ini:

“Kami selalu mengatakan bahwa kami tidak akan menjadi yang pertama memperkenalkannya (senjata nuklir), dan kami memang belum memperkenalkannya… Itu adalah jawaban terbaik yang bisa Anda dapatkan.”

Analis Shawn Rostker menjelaskan bahwa bungkamnya Israel adalah taktik militer yang cerdas. “Ambiguitas dimaksudkan untuk menjaga efek jera sekaligus menghindari biaya diplomatik, hukum, dan politik,” ujarnya. Karena tidak menandatangani Treaty on the Non-Proliferation of Nuclear Weapons (NPT), Israel tidak memiliki kewajiban untuk membuka pintunya bagi inspektur IAEA.

Iran: Dalam Cengkeraman Pengawasan Ketat

Di sisi lain, Iran adalah buku yang terbuka meski halamannya terus dipaksa untuk dibaca. Sebagai penandatangan NPT, setiap pergerakan sentrifugal di Iran berada di bawah radar International Atomic Energy Agency (IAEA).

Baca Juga :  Bumi Iran Berduka, Ratusan Tewas dalam Badai Rudal

Meskipun laporan IAEA tahun 2025 menyebut Iran memiliki 400 kg uranium dengan pengayaan 60%, angka ini masih di bawah ambang batas 90% yang diperlukan untuk hulu ledak nuklir. Yang mengejutkan, intelijen Amerika Serikat sendiri tampaknya bertolak belakang dengan retorika perang yang dilancarkan pemerintahnya.

Pada Maret 2025, Direktur Intelijen Nasional AS, Tulsi Gabbard, menegaskan kepada Kongres:

“AS terus menilai bahwa Iran tidak sedang membangun senjata nuklir dan Pemimpin Tertinggi Khamenei belum mengesahkan program senjata nuklir yang ia tangguhkan pada tahun 2003.”

Selektivitas Hukum Internasional

Tragedi kemanusiaan yang terjadi dalam perang 12 hari pada Juni tahun lalu dan pertempuran satu bulan tahun ini semakin memperuncing kritik terhadap ketidakadilan global. Iran dihujani bom atas dasar “dugaan”, sementara Israel memiliki sekitar 80 hingga 200 hulu ledak nuklir tanpa pernah menerima sanksi satu pun.

Baca Juga :  Hezbollah Luncurkan Roket ke Utara Israel Setelah Serangan Hebat Israel di Lebanon

Analis Palestina, Ahmed Najar, melihat fenomena ini sebagai kegagalan moral sistem internasional.

“Dalam hal ini, norma-norma internasional diterapkan secara selektif, ditegakkan secara ketat dalam beberapa kasus, dan diabaikan secara diam-diam dalam kasus lainnya,” ungkap Najar.

Ia menambahkan bahwa selama kepentingan strategis dan kedekatan geopolitik dengan Barat masih menjadi panglima, hukum internasional hanya akan menjadi tajam ke satu arah. “Postur nuklir Israel kemungkinan besar akan tetap terlindungi dari pengawasan,” pungkasnya.

Hingga saat ini, belum ada bukti konkret yang dipublikasikan untuk mendukung klaim bahwa Iran telah melintasi garis merah nuklir, menyisakan pertanyaan besar bagi dunia yaitu apakah perang ini tentang keamanan, ataukah tentang menjaga hegemoni nuklir tunggal di Timur Tengah?.***

Editor : Alysa

Sumber : cnbcindonesia.com