NARASITODAY.COM, MOSKOW – Setelah sempat mereda akibat eskalasi di Timur Tengah, titik api ketegangan kini kembali bergeser ke daratan Eropa. Rusia secara resmi melayangkan peringatan keras kepada empat negara anggota Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) Finlandia, Lithuania, Latvia, dan Estonia terkait dugaan keterlibatan mereka dalam serangan udara yang menghantam wilayah Rusia.
Ancaman ini menandai babak baru yang berbahaya dalam perang yang kini telah memasuki tahun keempat sejak pecah pada 2022 lalu. Moskow menegaskan tidak akan ragu untuk mengambil langkah balasan jika wilayah udara negara-negara tersebut terus digunakan sebagai “jembatan” serangan oleh Ukraina.
Tuduhan Kaki Tangan Agresi
Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Rusia, Sergey Shoigu, mengungkapkan bahwa frekuensi serangan drone Ukraina ke wilayah Rusia melalui rute utara meningkat tajam. Dalam keterangannya kepada jurnalis pada Jumat (17/4/2026), Shoigu menyoroti kerusakan pada fasilitas publik dan penderitaan warga sipil.
“Baru-baru ini, terjadi peningkatan serangan drone Ukraina terhadap Rusia melalui Finlandia, Lithuania, Latvia, dan Estonia,” kata Shoigu sebagaimana dikutip dari laman RT. “Akibatnya, warga sipil menderita dan kerusakan signifikan terjadi pada infrastruktur sipil.”
Shoigu memberikan pilihan dilematis bagi keempat negara tersebut: antara ketidakmampuan militer atau kesengajaan diplomatik.
“Entah pertahanan udara Barat terbukti tidak efektif, atau keempat negara ini dengan sengaja menyediakan wilayah udara mereka, sehingga menjadi kaki tangan terbuka dalam agresi terhadap Rusia,” tegasnya.
Moskow pun mulai menyusun landasan hukum untuk serangan balasan dengan merujuk pada Pasal 51 Piagam PBB mengenai hak membela diri terhadap serangan bersenjata.
Jejak Api di Baltik
Dugaan keterlibatan anggota NATO ini menguat setelah Ukraina mengintensifkan serangan Unmanned Aerial Vehicle (UAV) dalam skala besar. Akhir Maret lalu, pelabuhan strategis Rusia di Laut Baltik, yakni Ust-Luga dan Primorsk, menjadi sasaran hingga memicu kebakaran besar pada infrastruktur petrokimia setempat.
Ajudan Kremlin, Nikolay Patrushev, menilai penyediaan celah udara ini bukan sekadar bantuan logistik, melainkan keterlibatan militer aktif. Menurutnya, hal tersebut “menandakan partisipasi langsung NATO” dalam konflik yang melibatkan dua negara bekas Uni Soviet ini.
Ironisnya, meski beberapa pesawat tak berawak Ukraina dilaporkan telah melintasi wilayah udara mereka sejak awal Maret, Finlandia dan negara-negara Baltik cenderung bungkam dan menghindari kecaman terhadap Kyiv.
Fajar Kelabu di Kyiv dan Odesa
Di sisi lain perbatasan, serangan balasan Rusia juga tak kalah mematikan. Pada Kamis waktu setempat, gelombang rudal dan drone Rusia menghujani berbagai kota di Ukraina, meninggalkan jejak kehancuran yang mengerikan. Sedikitnya 19 orang tewas dan lebih dari 100 orang luka-luka dalam serangan tersebut.
Ibu kota Kyiv terbangun dengan suara ledakan yang menggetarkan kaca-kaca bangunan, diikuti kepulan asap hitam yang menutupi langit fajar. Di Odesa, pemukiman warga menjadi sasaran empuk rudal di tengah malam yang sunyi.
Kesaksian memilukan datang dari Tetiana, seorang warga Odesa yang harus melarikan diri dari maut saat apartemennya hancur dihantam ledakan.
“Dampaknya terjadi seketika. Saya mendengar teriakan, dan kami berlari cepat. Saya mencoba melompat keluar dari apartemen untuk menyelamatkan diri,” kisahnya kepada AFP dengan nada getir.
Empat tahun berlalu, dan peperangan ini tampaknya belum menemukan titik jenuh. Di tengah ancaman Moskow terhadap NATO, dunia kini menanti apakah konflik ini akan tetap terlokalisasi atau justru meledak menjadi konfrontasi terbuka yang melibatkan kekuatan trans-Atlantik.***
Editor : Alysa
Sumber : cnbcindonesia.com














