NARASITODAY.COM, BEIJING – Ketegangan di perairan Timur Tengah kembali mencapai titik didih. Pemerintah China resmi melayangkan protes keras terhadap Amerika Serikat (AS) menyusul insiden penyitaan kapal berbendera Iran, Touska, oleh pasukan Washington. Langkah militer AS ini dinilai Beijing bukan sekadar penegakan hukum, melainkan manuver berbahaya yang mengancam stabilitas energi global.
Dalam konferensi pers yang digelar Senin (20/4/2026), Juru Bicara Kementerian Luar Negeri China, Guo Jiakun, menyatakan keprihatinan mendalam atas tindakan pencegatan paksa tersebut. Di bawah lampu sorot media, Beijing menuntut agar Washington dan Teheran segera kembali ke meja perundingan guna mencegah eskalasi yang lebih luas.
Protes Keras di Balik Blokade
Bagi Beijing, tindakan Amerika Serikat melakukan blokade angkatan laut di pelabuhan-pelabuhan Iran adalah kebijakan yang sembrono. Insiden kapal Touska dipandang sebagai puncak gunung es dari tekanan militer yang kian agresif di jalur pelayaran internasional.
“China menyatakan keprihatinan atas pencegatan paksa kapal tersebut oleh pasukan AS,” ujar Guo Jiakun sebagaimana dilaporkan oleh BBC News.
Pernyataan ini mempertegas sikap keras yang sebelumnya telah dirilis oleh Kementerian Luar Negeri China. Beijing menuduh Washington sengaja menciptakan kondisi yang tidak stabil di kawasan yang menjadi urat nadi pasokan energi dunia.
“Blokade angkatan laut AS terhadap pelabuhan Iran adalah tindakan yang tidak bertanggung jawab dan berbahaya,” tegas pihak kementerian dalam pernyataan tertulisnya.
Energi dan Strategi Penekanan
Sentuhan geopolitik dalam insiden ini terasa sangat kental bagi China. Sebagai negara yang menyerap sekitar 90% dari total ekspor minyak Iran, blokade AS ini berdampak langsung pada ketahanan energi Negeri Tirai Bambu tersebut.
Para analis melihat penyitaan kapal Touska sebagai bagian dari strategi besar Washington untuk “menjepit” China. Dengan mengganggu arus minyak dari Teheran, AS diduga tengah menekan Beijing agar mau ikut serta memberikan sanksi ekonomi yang lebih berat kepada Iran.
Diplomasi yang Terganjal
Dampak dari aksi penyitaan ini segera terasa hingga ke meja diplomasi di Islamabad, Pakistan. Forum regional yang semula diharapkan menjadi wadah pembahasan stabilitas kawasan kini menemui jalan buntu. Iran, sebagai aktor kunci, memilih untuk absen dari pertemuan tersebut sebagai bentuk protes atas manuver militer Washington.
Ketidakhadiran Teheran di Islamabad praktis membuat proses diskusi mengenai keamanan kawasan terhenti sepenuhnya. Saat kapal-kapal perang masih bersiaga dan jalur energi terancam tersumbat, dunia kini menanti apakah seruan China untuk memulai kembali pembicaraan damai akan didengar, atau justru ketegangan ini akan menyeret kekuatan besar ke dalam konfrontasi yang lebih terbuka.***
Editor : Alysa
Sumber : cnbcindonesia.com













