Ketegangan di Selat Hormuz Meningkat Setelah Iran Tangkap dan Tembaki Kapal Dagang

0
Jepang
Ilustrasi Kepadatan kapal kargo yang menghambat lalu lintas maritim di Selat Hormuz.Foto : Istock

NARASITODAY.COM, TEHERANKetegangan di Selat Hormuz mencapai titik didih baru setelah militer Iran melakukan tindakan paling agresif sejak perang pecah awal tahun ini. Di tengah kebuntuan meja diplomasi, Teheran tidak lagi sekadar meluncurkan ancaman, melainkan menyita kapal-kapal dagang yang nekat melintasi jalur nadi minyak dunia tersebut, Rabu (22/4/2026).

Pasukan angkatan laut Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) Iran dilaporkan menyita dua kapal kontainer besar setelah sebelumnya melepaskan tembakan peringatan yang memecah kesunyian fajar di perairan Teluk. Ini merupakan aksi penyitaan pertama sejak konflik terbuka antara Iran melawan Amerika Serikat dan Israel meletus pada Februari lalu.

Malam Mencekam di Lautan

Aksi penangkapan ini melibatkan drama pengejaran di laut lepas. Kapal MSC Francesca berbendera Panama dan Epaminondas berbendera Liberia menjadi sasaran utama. IRGC menuduh kedua kapal tersebut beroperasi tanpa izin sah dan memanipulasi sistem navigasi untuk mengelabui pantauan otoritas.

Baca Juga :  Polresta Bogor Kota Lakukan Pemeriksaan Terhadap Anggota Geng yang Ditangkap

Kapal Epaminondas bahkan dilaporkan mengalami kerusakan pada bagian anjungan setelah dihujani tembakan dan granat berpeluncur roket dari kapal cepat IRGC di posisi 20 mil laut barat laut Oman. Sebanyak 21 awak kapal yang terdiri dari warga Ukraina dan Filipina kini berada di bawah kendali pasukan Iran.

“Penyitaan terbaru ini memperjelas bahwa bahkan Selat Hormuz yang ‘dibuka’ pun tidak aman bagi pelaut, kapal, dan kargo,” ungkap Peter Sand, kepala analis platform intelijen logistik Xeneta, menggambarkan betapa tingginya risiko pelayaran saat ini.

Garis Merah Teheran

Penyitaan ini bukan tanpa alasan politis. Melalui kantor berita Tasnim, IRGC menegaskan bahwa setiap gangguan terhadap ketertiban dan keamanan di selat tersebut akan dianggap sebagai “garis merah”.

Langkah memperketat jalur ini menjadi senjata pemungkas Teheran. Selat Hormuz adalah jalur bagi seperlima pasokan minyak dan gas global. Dalam kondisi normal, sekitar 130 kapal melintas setiap harinya. Namun kini, laut yang biasanya sibuk itu sunyi senyap, hanya menyisakan segelintir kapal yang berani bertaruh nyawa.

Baca Juga :  Ekonomi Jadi Tumit Achilles Trump dalam Konflik Tujuh Minggu Lawan Iran

Di sisi lain, AS telah memberlakukan blokade terhadap kapal-kapal Iran sebagai balasan atas konflik yang berkepanjangan. Situasi ini menciptakan efek “terkunci” yang membuat perdagangan energi global berada dalam ketidakpastian total.

Nasib Awak Kapal di Ujung Negosiasi

Menteri Urusan Maritim Montenegro, Filip Radulovic, mengonfirmasi bahwa empat pelaut asal negaranya berada di kapal MSC Francesca. Meskipun kapal sempat ditembaki, ia memastikan seluruh awak dalam kondisi aman namun dalam pengawasan pihak Iran.

“Negosiasi antara perusahaan pelayaran dan pihak Iran sedang berlangsung, dan otoritas negara terkait terus menjalin kontak dengan awak kapal,” ujar Radulovic sebagaimana dilansir Reuters.

Senada dengan itu, operator Epaminondas, Technomar Shipping Inc, terus berupaya menjalin komunikasi dengan otoritas regional. “Prioritas kami adalah keselamatan dan kesejahteraan awak kapal, sambil bekerja dengan semua pihak terkait untuk memastikan keselamatan mereka dan segera menyelesaikan situasi ini,” tegas perusahaan tersebut.

Baca Juga :  Billy Syahputra Sumbangkan Rezekinya untuk Pembangunan Masjid Dekat Makam Kakaknya

Lolos dari Maut

Tidak semua kapal berakhir di tangan IRGC. Kapal ketiga, Euphoria, juga dilaporkan ditembaki di area yang sama. Namun, kapal berbendera Liberia ini berhasil lolos tanpa kerusakan berarti dan melanjutkan pelayaran hingga mencapai Fujairah di Uni Emirat Arab.

Ketiga kapal tersebut diketahui berusaha keluar dari Selat Hormuz secara beriringan pada dini hari, dengan taktik mematikan sistem navigasi untuk menghindari deteksi. Namun, radar IRGC terbukti terlalu tajam. Kini, kapal-kapal yang disita tersebut diperkirakan tengah diarahkan menuju Bandar Abbas, sementara dunia cemas menanti dampak kenaikan harga energi yang tak terhindarkan akibat mencekamnya Selat Hormuz.***

Editor : Alysa

Sumber : cnbcindonesia.com