
NARASITODAY.COM, NABIRE – Langit Papua Tengah yang cerah, Lapangan Mepa Boarding School menjadi saksi bisu sebuah momen yang menggetarkan hati. Deki Degei, seorang siswa kelas XI SMA, berdiri tegak di tengah lapangan. Meski tubuhnya hanya bertumpu pada satu kaki tanpa bantuan tongkat, suaranya menggelegar lantang memimpin jalannya upacara Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) 2026, Sabtu (2/5/2026).
Aksi Deki yang penuh percaya diri ini tidak hanya memukau peserta upacara, tetapi juga viral di jagat maya sebagai simbol ketangguhan tanpa batas.
Mandiri dan Menolak Dikasihani
Deki terpilih menjadi pemimpin upacara melalui seleksi ketat oleh Dinas Pendidikan setempat. Postur tubuhnya yang tegap dan karakter mentalnya yang kuat menjadi alasan utama ia dipercaya mengemban tugas besar tersebut di hadapan Gubernur Papua Tengah, Meki Nawipa.
Ketua Yayasan Mepa Boarding School, Jon Fallo, menceritakan betapa Deki adalah sosok yang sangat disiplin. Selama masa persiapan, Deki berlatih secara mandiri dan dengan tegas menolak menggunakan tongkat. Ia ingin menunjukkan bahwa keterbatasan fisik bukanlah penghalang untuk tampil sempurna layaknya orang normal.
“Dia (Deki Degei) cukup percaya diri dan tegas saya lihat itu,” ungkap Jon Fallo kepada wartawan, Rabu (6/5/2026).
Selama hampir 40 menit jalannya upacara, Deki berdiri tanpa goyah. Setiap kali memberikan instruksi atau melapor kepada pembina upacara, ia bergerak dengan cara melompat tegap, sebuah pemandangan yang mengundang decak kagum. “Saya nggak ragu sama sekali karena dia punya kemampuan lebih dari cukup,” tambah Jon.
Semangat Setinggi Puncak Cartenz
Di balik seragam sekolahnya, Deki menyimpan prinsip hidup yang kokoh. Di asrama maupun di sekolah, ia dikenal sebagai pribadi yang tidak mau menyusahkan orang lain. Ia mengerjakan tugas-tugas praktis dengan kemampuan sendiri, menolak untuk dikasihani atas kondisinya.
“Dia dengan kondisi begitu tidak pernah minta dikasihani, apa-apa dilakukan dan dia lakukan persis seperti orang normal,” tutur Jon. “Kita memang prihatin tapi kalau dia sendiri mengatakan dia bisa, masa kita ragu sama dia.”
Keteguhan hati Deki ini pun memantik pujian langsung dari Gubernur Papua Tengah, Meki Nawipa. Sang Gubernur yang bertindak sebagai pembina upacara tampak emosional melihat perjuangan siswanya tersebut.
Dalam sambutannya, Meki menyampaikan pesan mendalam yang kini menjadi api semangat bagi pemuda di Papua Tengah. “Sampai beliau (Gubernur) mengungkapkan kalimat bahwa, ‘Keterbatasan itu tidak bisa menghentikan mimpi anak-anak itu, jadi tetaplah bermimpi berjuang setinggi Gunung Cartenz, jadilah pemimpin dengan kondisi apapun, karena semua bisa’,” terang Jon menirukan ucapan Gubernur.
Menatap Masa Depan
Bagi pihak sekolah, Deki bukan sekadar siswa berprestasi di lapangan upacara, melainkan teladan bagi karakter yang kuat. Tantangan ke depan adalah menjaga api semangat tersebut agar Deki bisa melanjutkan pendidikan ke jenjang perguruan tinggi.
Melihat dedikasi dan cara Deki menjalani hidup tanpa pernah mengeluh, Jon optimis bahwa siswanya itu akan memetik keberhasilan di masa depan.
“Karakternya kelihatan nggak ada bikin masalah. Saya sih yakin dia ke depan jadi itu (sukses), asal kami dukung dia terus dia begitu, jadi itu,” tegas Jon mengakhiri percakapan.
Kisah Deki Degei di Nabire menjadi pengingat bagi banyak orang bahwa dalam dunia pendidikan, hambatan terbesar bukanlah fisik, melainkan keraguan untuk mencoba. Di atas satu kaki, Deki membuktikan bahwa martabat dan kepemimpinan lahir dari hati yang tidak pernah menyerah.***
Editor : Alysa
Sumber : detik.com












