Kebijakan Harga BBM India di Tengah Ketegangan Timur Tengah, Inflasi dan Biaya Transportasi Meningkat

0
India
Ilustrasi rang-orang membeli bensin dan solar serta mengisi bahan bakar kendaraan mereka di sebuah pompa bensin Indian Oil di Srisailam.Foto : Istock

NARASITODAY.COM, NEW DELHI – Antrean panjang kendaraan bermotor kembali mengular di stasiun-stasiun pengisian bahan bakar di sudut kota Delhi. Klakson yang bersahutan kini membawa rona kecemasan baru bagi para komuter dan pengemudi transportasi lokal.

Gelombang panas yang menyengat India seolah berpindah ke dompet masyarakat, setelah pemerintah setempat resmi mengetok palu untuk menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM) demi menutup lubang kerugian akibat meroketnya harga minyak mentah di pasar internasional.

Pemerintah India kembali mengerek naik harga eceran untuk jenis bensin dan diesel pada Selasa (19/5/2026). Kebijakan tidak populer ini menjadi hantaman kedua bagi konsumen hanya dalam kurun waktu satu minggu terakhir.

Berdasarkan laporan para peritel bahan bakar di Delhi, harga bensin merangkak naik sekitar 0,9 rupee per liter. Angka ini menggeser posisi harga dari yang semula 97,77 rupee menjadi 98,64 rupee per liter. Setali tiga uang, harga diesel juga mengalami lonjakan menjadi 91,58 rupee per liter, naik dari harga sebelumnya yang bertengger di angka 90,67 rupee per liter.

Baca Juga :  Isi Pertalite Pakai Jerigen, Pria di Sukabumi Diciduk Polisi

Keputusan pada hari Selasa ini melanjutkan tren penyesuaian harga yang dimulai pada Jumat pekan lalu, di mana pemerintah telah menaikkan harga bensin dan diesel sebesar 3 rupee per liter sebuah langkah koreksi tarif yang tercatat sebagai kenaikan pertama dalam empat tahun terakhir.

Sebagai negara importir sekaligus konsumen minyak terbesar ketiga di tingkat global, India menjadi salah satu kekuatan ekonomi utama dunia yang paling terakhir menyesuaikan harga BBM ritel di dalam negerinya.

Baca Juga :  Dire Wolf Hidup Kembali: Dari Fosil Kuno ke Predator Masa Kini di Tangan Ilmuwan

Penundaan ini akhirnya runtuh setelah rantai pasok pasokan energi global koyak akibat blokade dan gangguan pengiriman di Selat Hormuz, yang dipicu oleh eskalasi perang pasca-serangan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran.

Tekanan Geopolitik dan Efek Domino Inflasi

Konflik geopolitik yang membara di kawasan Timur Tengah telah mendorong grafik minyak dunia melesat tajam hingga menembus angka di atas US$120 per barel, sebelum akhirnya mengalami sedikit koreksi teknis di pasar komoditas.

Di India, kendali pasar BBM ritel terkonsentrasi pada tiga raksasa energi milik negara, yakni Indian Oil Corporation, Hindustan Petroleum Corporation, dan Bharat Petroleum Corporation.

Baca Juga :  Pelaku Pembunuhan Pelajar SMK di Ciomas Ditangkap, Motif Ingin Kuasai Harta Korban

Ketiga perusahaan pelat merah tersebut menguasai lebih dari 90% jaringan distribusi yang membawahi sekitar 103.000 stasiun pengisian bahan bakar di seluruh penjuru negeri, dan secara kompak menetapkan penyesuaian harga komoditas ini secara bersamaan.

Langkah berani yang diambil New Delhi ini merefleksikan betapa beratnya tekanan yang harus dipikul oleh negara-negara yang bergantung pada impor energi di tengah volatilitas pasar minyak global yang tak menentu.

Kini, tantangan baru siap menghadang perekonomian India. Kenaikan harga hulu ini diprediksi akan memicu efek domino yang memicu kekhawatiran meluas terhadap lonjakan angka inflasi, meroketnya biaya transportasi, serta pembengkakan biaya produksi di berbagai sektor industri vital nasional.***

Editor : Alysa

Sumber : Berbagai Sumber