NARASITODAY.COM, PARIS – Cerobong-cerobong pabrik di kawasan industri Eropa perlahan mulai mengurangi intensitas asapnya, sementara para konsumen di supermarket harus menatap label harga yang terus merangkak naik dengan cemas.
Efek rembetan konflik bersenjata di Timur Tengah tidak lagi sekadar menjadi tajuk berita internasional, melainkan telah menjelma menjadi momok nyata yang mencekik perekonomian Benua Biru.
Kombinasi beracun antara pertumbuhan yang melambat dan inflasi yang melambung kini memaksa para pengambil kebijakan di Brussels untuk mengibarkan bendera peringatan.
Uni Eropa (UE) dilaporkan bakal segera merevisi turun proyeksi pertumbuhan ekonomi mereka. Langkah darurat ini terpaksa diambil akibat hantaman kejutan stagflasi yang dipicu oleh eskalasi ketegangan perang melibatkan Iran, yang berdampak sistemik pada memburuknya lanskap ekonomi global.
Mengutip laporan dari CNBC International, kepastian mengenai koreksi proyeksi tersebut dikonfirmasi langsung oleh otoritas ekonomi Uni Eropa. Draf perkiraan ekonomi musim spring (perkiraan musim semi) yang dijadwalkan meluncur akhir pekan ini dipastikan akan memuat penurunan angka pertumbuhan ekonomi sekaligus revisi kenaikan angka inflasi secara signifikan.
Komisaris Eropa untuk Ekonomi dan Produktivitas, Valdis Dombrovskis, membeberkan indikasi buruk tersebut di sela-sela agenda pertemuan tingkat tinggi para menteri keuangan G7 di Prancis.
“Kita sedang menghadapi sebuah kejutan stagflasi,” ujar Valdis Dombrovskis di sela-sela pertemuan para menteri keuangan G7 di Paris Senin, dikutip Selasa (19/5/2026).
Kekhawatiran global terhadap ancaman stagflasi memang melonjak tajam dalam beberapa pekan terakhir akibat kebuntuan resolusi damai di Timur Tengah. Situasi ini diperparah oleh lumpuhnya Selat Hormuz sebagai jalur pelayaran energi vital, yang menyebabkan harga minyak mentah dunia betah bertengger kokoh di atas level US$100 per barel.
Ruang Fiskal Eropa Makin Sempit
Dombrovskis mengakui bahwa ruang gerak arsitek ekonomi dunia saat ini jauh lebih terbatas dibandingkan saat menghadapi krisis-krisis terdahulu. Kondisi ini membuat negara-negara Eropa hampir tidak memiliki celah untuk menggelontorkan stimulus fiskal berbasis luas, sebagaimana yang pernah mereka lakukan secara masif selama masa pandemi beberapa tahun lalu.
“Kami pikir penting agar langkah-langkah dukungan yang kami ambil bersifat sementara dan tepat sasaran, bukan langkah-langkah yang justru mempertahankan tingginya permintaan terhadap bahan bakar fosil,” kata Dombrovskis menambahkan.
Di sisi lain, para pakar strategi ekonomi global telah melayangkan peringatan keras bahwa stok minyak mentah dunia saat ini tengah merosot tajam ke titik terendah. Cadangan minyak internasional tersebut diprediksi tidak akan mampu pulih hingga bulan Desember 2027, yang memicu ancaman nyata kelangkaan fisik pasokan energi di daratan Eropa pada akhir bulan ini.
Cadangan Minyak Dunia Menyusut Tajam
Badan Energi Internasional (IEA) dalam pembaruan laporan bulanan terbarunya turut memberikan peringatan senada mengenai laju penyusutan cadangan minyak bumi dunia yang terjadi dalam kecepatan yang mencetak rekor sejarah baru.
“Penyusutan penyangga yang terjadi secara cepat di tengah gangguan yang terus berlanjut dapat menjadi pertanda terjadinya lonjakan harga di masa depan,” bunyi peringatan tertulis resmi dari pihak IEA.
Menyikapi ancaman kelangkaan ini, Dombrovskis menjelaskan bahwa pelepasan cadangan minyak strategis milik Uni Eropa sejauh ini masih terus berjalan demi menjaga stabilitas pasar. Kendati demikian, ia tidak menampik adanya kekhawatiran terkait potensi hambatan pasokan pada beberapa sektor energi spesifik.
“Semakin lama konflik ini berlangsung, semakin besar risiko terjadinya beberapa hambatan pasokan, yang sekaligus memperkuat pesan kami bahwa respons kebijakan tidak boleh meningkatkan permintaan terhadap bahan bakar fosil,” pungkas Dombrovskis menekankan arah kebijakan industri Eropa ke depan.***
Editor : Alysa
Sumber : cnbcindonesia.com













