NARASITODAY.COM, JAKARTA – Anomali cuaca mengerikan kembali mengintai bumi. Berbagai pemodelan komputer milik pusat penelitian iklim dunia mulai menangkap sinyal merah yaitu sebuah fenomena El Nino terkuat dalam beberapa dekade terakhir diprediksi akan menyergap pada akhir tahun ini.
Jika skenario terburuk ini menjadi nyata, dunia harus bersiap menghadapi rentetan bencana hidrometeorologi, mulai dari banjir bandang, kekeringan ekstrem, hingga ancaman pecahnya rekor suhu terpanas global baru pada tahun 2027 mendatang.
Berdasarkan prakiraan terbaru dari National Oceanic and Atmospheric Administration (NOAA) yang dirilis 14 Mei 2026, peluang El Nino mulai terbentuk pada rentang Mei hingga Juli tahun ini menembus angka 82 persen. Sementara itu, probabilitas fenomena ini bertahan hingga Desember nanti mencapai 96 persen.
Saat ini, tanda-tanda alam mulai terlihat nyata di perairan lepas pantai barat Amerika Selatan, di mana suhu permukaan laut telah melonjak hingga 1 derajat Celsius di atas rata-rata normal.
Bahkan, European Centre for Medium-Range Weather Forecasts (ECMWF) memprediksi pemanasan ekstrem di Samudra Pasifik tropis bagian tengah dan timur bisa menyentuh angka 3 derajat Celsius di atas normal pada November mendatang sebuah kondisi yang oleh para ilmuwan dijuluki sebagai “Super El Nino”.
BMKG Pantau Ketat Garis Merah di Indonesia
Di dalam negeri, Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) langsung mengambil posisi siaga satu. Pemantauan intensif terhadap pergerakan suhu muka laut dan dinamika atmosfer terus dilakukan demi menghitung seberapa besar hantaman fenomena ini terhadap wilayah kepulauan Indonesia.
Deputi Bidang Klimatologi BMKG, Ardhasena Sophaheluwakan, membeberkan kalkulasi peluang kekuatan El Nino yang akan dihadapi Indonesia dalam beberapa bulan ke depan.
āBMKG memprediksi peluang intensitas El Nino mencapai kategori lemah sebesar 100 persen, kategori moderat sebesar 86 persen, dan kategori kuat sebesar 22 persen,ā ujar Ardhasena kepada Kompas.com, Kamis (21/5/2026).
Beruntung, dunia modern saat ini dipersenjatai oleh teknologi mumpuni. Ardhasena mengenang bagaimana El Nino di masa lalu kerap menjadi mesin pembunuh massal yang tak terdeteksi karena keterbatasan teknologi manusia saat itu.
āPada saat itu, sains mengenai El Nino belum sepenuhnya berkembang dan belum tersedia sistem monitoring laut maupun peringatan dini,ā kenangnya.
Beririsan dengan Musim Kemarau
Bagi masyarakat Indonesia, ancaman terbesar dari “Super El Nino” bukan terletak pada puncaknya di akhir tahun, melainkan saat fase pembentukannya menjalar di pertengahan tahun. Fase ini dipastikan akan memotong pasokan hujan tepat ketika sebagian besar wilayah Indonesia memasuki musim kering.
āEl Nino bisa berlanjut sampai tahun berikutnya, tetapi dampaknya di Indonesia umumnya paling terasa ketika bertepatan dengan musim kemarau di pertengahan tahun,ā jelas Ardhasena.
Oleh karena itu, periode antara Mei hingga Oktober menjadi masa paling kritis yang wajib diwaspadai. Berbeda dengan negara Amerika Latin seperti Peru yang justru akan dihantam banjir bandang akibat El Nino, Indonesia justru akan mengalami defisit air yang parah.
Ardhasena pun melayangkan peringatan keras kepada seluruh pemerintah daerah dan masyarakat untuk mengantisipasi bencana lingkungan yang paling rawan terjadi saat tanah mengering.
āYang perlu diwaspadai adalah meningkatnya potensi kebakaran hutan dan lahan, khususnya di wilayah gambut yang sangat mudah terbakar saat musim kering berkepanjangan,ā tegasnya.
Hantu Kelaparan Global 1877 dan Risiko Kemanusiaan Modern
Ketakutan para ilmuwan terhadap potensi “Super El Nino” tahun ini bukan tanpa dasar historis. Jika intensitasnya terus meroket, dampaknya dikhawatirkan menyerupai tragedi iklim kelam pada tahun 1877.
Kala itu, El Nino dengan kekuatan raksasa membakar wilayah Asia, Afrika, dan Amerika Selatan lewat kekeringan panjang yang serentak. Akibat tidak adanya wilayah yang bisa menjadi penyangga pangan, dunia menghadapi gagal panen global yang memicu kelaparan hebat dan menewaskan lebih dari 50 juta jiwa setara 3 persen populasi bumi saat itu.
Ahli klimatologi dari Columbia University, Deepti Singh, menyebut peristiwa akhir abad ke-19 itu sebagai bencana lingkungan paling mematikan dalam sejarah modern, yang kekuatannya setara dengan El Nino besar tahun 1997ā1998 dan 2015ā2016. Namun, ia memperingatkan bahwa kondisi bumi saat ini jauh lebih rentan.
āYang berbeda sekarang adalah atmosfer dan lautan kita jauh lebih hangat dibandingkan tahun 1870-an, sehingga dampak ekstrem yang muncul bisa menjadi lebih parah,ā kata Deepti Singh seperti dikutip dari American Institute of Physics.
Selain ancaman fisik, risiko ekonomi yang dipertaruhkan sangat masif. Sebagai pembanding, El Nino 1997ā1998 saja sukses menguapkan dana global hingga US$96 miliar (setara Rp1,69 kuadriliun dengan kurs saat ini). Sektor perikanan, pertanian, dan logistik laut dipastikan menjadi korban pertama yang akan babak belur.
Profesor risiko dan ketahanan iklim dari University of Reading, Liz Stephens, menambahkan bahwa krisis iklim tahun ini berpotensi berkelindan dengan krisis geopolitik global, menciptakan bom waktu kemanusiaan yang mengerikan.
āSaat ini sudah ada lebih banyak orang yang hidup dalam kemiskinan. Jika hasil panen menurun akibat kekeringan atau banjir terkait El Nino, harga pangan akan semakin melonjak,ā tutur Stephens cemas.
āKarena itu, kita berpotensi menghadapi dampak kemanusiaan yang sangat besar tahun ini, terutama jika krisis di Timur Tengah terus berlanjut,ā pungkasnya.
Pemetaan Data Krisis El Nino
Untuk mempermudah mitigasi, berikut adalah pemetaan risiko domestik dan rekam jejak El Nino besar yang pernah mengguncang dunia:
Tabel 1: Dampak Nyata El Nino di Indonesia
| Dampak Utama | Potensi Risiko di Lapangan |
| Penurunan Curah Hujan | Kekeringan parah, kemarau lebih panjang, dan krisis air bersih nasional. |
| Kondisi Lahan Mengering | Kebakaran hutan dan lahan (Karhutla), khususnya pada lahan gambut. |
| Gangguan Pertanian | Gagal panen masif dan penurunan drastis produksi pangan nasional. |
| Cuaca Lebih Panas | Meningkatnya risiko gelombang panas (heatwave) dan penurunan kesehatan warga. |
Tabel 2: Rekam Jejak Peristiwa El Nino Besar Dunia
| Tahun Peristiwa | Dampak Utama Terhadap Peradaban |
| 1877ā1878 | Krisis pangan global serentak, menewaskan lebih dari 50 juta korban jiwa. |
| 1997ā1998 | Kerugian finansial dan ekonomi global hingga menembus US$96 miliar. |
| 2015ā2016 | Memicu cuaca ekstrem ekstrem, kekeringan, dan badai di banyak negara. |
| 2023ā2024 | Kekeringan parah di Afrika Selatan dan banjir bandang destruktif di Brasil Selatan. |
Editor : Alysa
Sumber : Berbagai Sumber














