Gedung-gedung Megah Hong Kong Sembunyikan Realitas Memprihatinkan Para Lansia Pemulung

0
Gedung
Ilustrasi Pemandangan kota Hong Kong saat matahari terbenam.Foto : Istock

NARASITODAY.COM, HONG KONGGedung pencakar langit dan statusnya sebagai salah satu kota paling makmur di dunia, Hong Kong menyimpan realitas sosial yang kelam. Julukan “Nenek Kardus” kini melekat pada pemandangan sehari-hari di sudut-sudut kota, merujuk pada fenomena lansia yang terpaksa bertahan hidup dengan memulung kardus bekas.

Bukan sekadar mencari kesibukan, para lansia yang rata-rata telah menginjak usia 70 tahun ke atas ini harus mempertaruhkan fisik mereka. Setiap hari, mereka mendorong puluhan kilogram beban demi upah yang sangat minim.

Di hari yang paling beruntung, mereka hanya mampu mengantongi sekitar US$ 12 atau setara dengan Rp 212.000 jumlah yang nyatanya hampir tidak cukup untuk membeli dua porsi makanan sederhana di kota dengan biaya hidup selangit ini.

Bergelut dengan Malam dan Menyusutnya Pendapatan

Rutinitas ekstrem ini dijalani oleh Wu Sau-jing. Di usianya yang telah menginjak 71 tahun, jam tidur Sau-jing justru terbalik. Ketika warga kota terlelap, ia mulai melangkah keluar rumah pada pukul 02.00 dini hari untuk memungut kardus yang dibuang oleh pertokoan dan restoran. Setelah memilahnya, ia baru bisa pulang ke rumah pada pukul 11.00 siang.

Baca Juga :  Bukan Melarikan Diri, Sopir Pengangkut BBM Dalam Jerigen di Cibungbulang Alami Luka Bakar

“Saya mempertahankan mata pencaharian dan ini juga merupakan hobi saya. Jika Anda tidak menyukainya, ini bisa menjadi hal yang cukup melelahkan,” tutur Sau-jing.

Nasib serupa membayangi Lai (70). Selama dua dekade menggantungkan hidup dari kardus bekas, pendapatannya merosot tajam hingga 50 persen dalam setahun terakhir. Tempat daur ulang yang biasanya membayar US$ 0,078 (Rp 1.383) per kilogram sesuai standar minimum pemerintah, kini memotong harga beli menjadi hanya US$ 0,038 (Rp 674) per kilogram. Kesedihan Lai kian bertambah jika hasil payahnya diangkut petugas kebersihan atau orang asing karena dianggap sebagai sampah yang menyumbat jalanan.

Terjebak di Garis Kemiskinan Masa Tua

Fenomena ini mempertegas ketimpangan sosial yang nyata. Berdasarkan laporan lembaga kemanusiaan Oxfam Hong Kong, tercatat ada sekitar 580.000 lansia di kota tersebut yang hidup di bawah garis kemiskinan. Walau pemerintah setempat mengucurkan tunjangan bulanan, nilainya terlampau kecil untuk menutup biaya hidup yang mencekik.

Baca Juga :  Penipuan Modus Tukar Kartu ATM di Bogor, Korban Lansia Jadi Sasaran Empuk Pelaku

Kisah memilukan juga datang dari Chan Ngai-kan yang sudah menginjak usia 95 tahun. Suatu sore, setelah berjalan jauh memindahkan kereta dorongnya dari satu distrik ke distrik lain, ia terpaku di depan pos daur ulang. Kebijakan baru membuat pos tersebut menolak menerima kardus. Hari itu, ia terpaksa membuang seluruh hasil angkutannya ke tempat sampah tanpa membawa uang sepeser pun.

“Anak-anak saya berada di Kanada dan saya tidak punya uang,” ungkap Ngai-kan, mengisahkan hari itu sebagai pukulan yang sangat berat bagi sisa hidupnya.

Tak hanya wanita, para kakek pun turun ke jalan. Cheung (80), salah satu pemulung pria, harus menantang fisiknya dengan mendorong kereta melewati jalanan Hong Kong yang terkenal curam selama 30 menit demi mencapai pusat daur ulang terdekat.

Baca Juga :  Komitmen Perangi Stunting, Pemkab Bogor Resmikan Rumah Ceting Kedua, Kini Hadir di Sukamakmur dan Bantu Warga Miskin

Menyambung Nyawa Sekaligus Menambal Beban Ekologis Kota

Ironisnya, para lansia ini justru menjadi pahlawan ekologi yang tak diakui di tengah buruknya manajemen sampah kota. Hong Kong memproduksi sampah yang sangat tinggi, yakni mencapai 1,51 kg per kapita setiap hari. Angka ini jauh melampaui kota-kota besar Asia lainnya seperti Tokyo (0,88 kg), Seoul (0,95 kg), dan Taipei (1,139 kg).

Dari tumpukan sampah tersebut, Hong Kong baru bisa mendaur ulang sekitar 30% hingga 40% saja tertinggal jauh dari Taiwan dan Korea Selatan yang sudah mendaur ulang lebih dari separuh sampah mereka.

Bagi Sau-jing, pekerjaan berat ini sudah melebur menjadi bagian dari jiwanya. Tiga puluh tahun menyusuri trotoar yang sama setiap malam membuatnya enggan untuk berhenti, meski tubuhnya tak lagi muda.

“Ini seperti merokok dan berjudi. Ini adalah hobi yang tidak bisa Anda hilangkan… Saya akan melakukannya sampai hari di mana saya tidak bisa melakukannya lagi,” kelakar Sau-jing menutup perbincangan.***

Editor : Alysa

Sumber : cnbcindonesia.com