Ketegangan AS dan Kuba Kembali Mengemuka Setelah Pertemuan Langka di Perbatasan Guantanamo

0
Guantanamo
Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth dan Jenderal Komando Selatan AS Francis Donovan.Foto : justsecurity.org

NARASITODAY.COM, GUANTANAMODi atas tanah gersang yang memisahkan Pangkalan Angkatan Laut Teluk Guantanamo milik Amerika Serikat (AS) dengan wilayah kedaulatan Kuba, sebuah pemandangan langka dan sarat ketegangan baru saja terjadi. Komandan Komando Selatan AS (SOUTHCOM), Jenderal Francis Donovan, melakukan pertemuan tatap muka tingkat tinggi yang sangat jarang terjadi dengan delegasi militer papan atas Kuba.

Pertemuan di area perimeter pangkalan militer AS yang kontroversial ini digelar untuk membahas keamanan operasional dan stabilitas di perbatasan. Melalui pernyataan resmi di platform X, Komando Selatan AS mengonfirmasi bahwa Jenderal Donovan bertemu langsung dengan Wakil Menteri Pertahanan Kuba, Roberto Legra Sotolongo.

Dalam agenda tersebut, Donovan juga melakukan peninjauan keamanan langsung di sepanjang garis batas yang telah memisahkan kedua negara sejak era Perang Dingin. Pembahasan difokuskan pada tiga poin krusial yaitu keamanan perimeter pangkalan, keselamatan personel militer beserta keluarga mereka, serta kesiapan operasional pangkalan Guantanamo.

Baca Juga :  Konflik AS-Israel dan Iran Memanas, Angka 70 Ribu Dikaitkan dengan Hadits tentang Dajjal

Meskipun Pemerintah Kuba menyatakan pertemuan ini berlangsung atas kesepakatan bersama dan kedua belah pihak setuju untuk menjaga jalur komunikasi militer tetap terbuka, atmosfer di lapangan tidak bisa menyembunyikan rasa saling curiga yang mendalam.

Havana secara terbuka menegaskan kekhawatirannya atas potensi eskalasi militer dari Washington. Pihak Kuba bahkan memperingatkan bahwa setiap tindakan konfrontasi bersenjata di wilayah tersebut dapat memicu jatuhnya korban jiwa yang besar di kedua belah pihak.

Angin Dingin Washington dan Bayang-Bayang Florida

Pertemuan di Guantanamo ini terjadi di tengah memanasnya kembali hubungan bilateral AS-Kuba dalam beberapa bulan terakhir. Eskalasi mulai terasa sejak Direktur CIA, John Ratcliffe, melakukan kunjungan mendadak ke Havana pada awal Mei lalu.

Baca Juga :  Ledakan di Desa Kaung Tat Myanmar Tewaskan 55 Orang, Puluhan Luka-Luka

Di Washington, angin politik tampaknya sedang berembus kencang ke arah konfrontasi. Presiden AS Donald Trump, dalam periode kedua kepemimpinannya, dilaporkan kian menempatkan Kuba sebagai fokus utama kebijakan luar negerinya sebuah langkah yang mendapat sokongan kuat dari kelompok politik garis keras anti-Kuba di Florida.

Tekanan ini dipertegas oleh Menteri Luar Negeri AS, Marco Rubio, yang secara konsisten melabeli Kuba sebagai ancaman nyata bagi keamanan nasional Paman Sam, mengingat posisinya yang hanya berjarak sekitar 90 mil dari pesisir Florida. Kompleksitas ini kian kusut akibat dinamika geopolitik Amerika Latin, khususnya aliansi erat antara Havana dengan pemerintahan Presiden Nicolas Maduro di Venezuela.

Krisis Energi dan Taruhan Kemanusiaan

Bagi Kuba, ketegangan politik dengan tetangga raksasanya ini bukan sekadar urusan retorika militer, melainkan hantaman nyata bagi kehidupan sehari-hari warganya. Sejak Revolusi 1959 yang dipimpin oleh Fidel Castro, Havana telah kenyang menghadapi berbagai sanksi ekonomi dari Washington.

Baca Juga :  Trump Umumkan Pemimpin Tren de Aragua Tewas dalam Operasi Militer AS di Venezuela

Pemerintah Kuba memperingatkan bahwa kebijakan pembatasan energi yang dijatuhkan AS saat ini telah mencekik kondisi ekonomi domestik mereka yang sudah rapuh. Dampaknya mengerikan: pemadaman listrik berkepanjangan melumpuhkan kota-kota di Kuba dan memicu risiko gelombang krisis migrasi baru, di mana ribuan warga sipil yang putus asa berpotensi nekat menyeberang lautan menuju daratan Amerika Serikat.

Kini, setelah debu dari deru kendaraan militer di perimeter Guantanamo mulai mereda, kesepakatan untuk tetap saling berbicara telah tercapai. Namun, di bawah bayang-bayang kawat berduri dan menara pengawas yang memisahkan mereka, AS dan Kuba tampaknya masih terjebak dalam lingkaran ketidakpastian berdiri berhadapan dengan tangan yang tetap bersiap di atas pelatuk senjata masing-masing.***

Editor : Alysa

Sumber : kontan.co.id