NARASITODAY.COM, BRUSSEL – Perekonomian kawasan euro mengalami perlambatan yang cukup signifikan pada kuartal pertama tahun 2026, menurut data terbaru yang dirilis pada hari Jumat (5/6/2026). Angka pertumbuhan resmi menunjukkan kontraksi sebesar 0,2%, sebuah revisi besar dari prediksi awal yang sempat menyatakan kawasan ini akan tumbuh hampir datar.
Mengutip laporan dari AFP, sebelumnya para analis memperkirakan bahwa pertumbuhan ekonomi di 21 negara zona euro akan mendekati nol, sekitar 0,1%, jika dibandingkan dengan periode tiga bulan sebelumnya.
Namun, kenyataannya berbeda jauh. Penurunan ini terutama dipicu oleh kondisi ekonomi Irlandia yang memburuk secara drastis, menimbulkan dampak domino bagi seluruh kawasan.
Data dari Kantor Statistik Pusat (CSO) Irlandia menunjukkan bahwa aktivitas ekonomi di negara tersebut mengalami kontraksi sebesar 12,1% selama kuartal pertama, jika dibandingkan dengan triwulan sebelumnya. Angka ini merupakan rekor penurunan yang belum pernah terjadi sebelumnya, menandai kejatuhan ekonomi yang cukup dalam.
Walaupun demikian, menurut laporan resmi, ekonomi Irlandia tetap mencatat pertumbuhan jika aktivitas perusahaan multinasional dikeluarkan dari perhitungan. Namun, revisi ini menunjukkan bahwa angka PDB nasional jauh lebih buruk dari perkiraan awal yang hanya menunjukkan penurunan sebesar 2%. Secara tahunan, penurunan tersebut bahkan mencapai 17,1%, sebuah angka yang sangat mengkhawatirkan.
Kontraksi sektor industri global yang mencatatkan penurunan hingga 35% selama Januari sampai Maret, serta penurunan 2% di sektor informasi dan komunikasi, menjadi penyebab utama penurunan PDB Irlandia. Data ini memperlihatkan betapa besarnya dampak dari penurunan tajam di sektor manufaktur yang bergantung pada ekspor.
Dermot O’Leary, Kepala Ekonom Goodbody, menyatakan bahwa penurunan ekonomi Irlandia ini memiliki efek yang sangat sistemik terhadap kawasan euro. “Skala penurunan ini telah mendorong kawasan euro ke dalam kontraksi pada kuartal tersebut,” ujarnya. Ia menambahkan bahwa revisi angka ini mengurangi proyeksi PDB kawasan euro sebesar 0,4%.
Bank of Ireland pun mengonfirmasi bahwa penurunan ini merupakan yang terburuk dalam sejarah ekonomi Irlandia, meskipun mereka menekankan bahwa kondisi ini hanya mencerminkan sebagian kecil dari perusahaan multinasional di sektor farmasi yang menjadi penyumbang utama.
Sementara itu, Thomas Pugh, Kepala Ekonom di firma RSM Ireland, menyebut bahwa penurunan tajam ini lebih banyak disebabkan oleh faktor ekspor. “PDB terseret turun oleh runtuhnya ekspor barang, terutama di sektor farmasi,” katanya.
Pugh menambahkan bahwa lonjakan ekspor tahun lalu, yang terjadi sebelum penerapan tarif dari Amerika Serikat, kini berbalik dan menyumbang tekanan besar pada perekonomian Irlandia.
Secara keseluruhan, data ini menunjukkan bahwa tantangan ekonomi di kawasan euro semakin nyata, dengan Irlandia sebagai salah satu pusat pertumbuhan utama yang mengalami penurunan tajam.
Para ekonom menegaskan bahwa kondisi ini perlu menjadi perhatian serius bagi otoritas kawasan untuk mencegah dampak yang lebih luas terhadap stabilitas ekonomi regional.***
Editor : Alysa
Sumber : cnbcindonesia.com














