Singapura Genjot Ambisi Jadi Pusat Perdagangan Emas Asia di Tengah Lonjakan Permintaan

0
Singapura
Ilustrasi bendera Singapura.Foto : Istock

NARASITODAY.COM,SINGAPURADi tengah arsitektur modern yang menjulang tinggi, Singapura kini sedang membangun fondasi baru yang berkilau. Negara kota ini tengah bergerak agresif memposisikan dirinya sebagai pusat regional bagi perdagangan dan penyimpanan emas. Langkah besar ini diambil menyusul lonjakan permintaan logam mulia yang luar biasa pesat di seluruh kawasan Asia, khususnya dari pasar raksasa seperti India, Indonesia, dan Vietnam.

Mengutip laporan Channel News Asia (CNA) pada Selasa (9/6/2026), magnet utama yang menarik para investor global dan lembaga keuangan kakap ke Singapura adalah reputasinya yang legendaris terkait stabilitas, keamanan mutlak, serta tata kelola pemerintahan yang kuat.

Kini, target Singapura meluas. Di tengah badai ketidakpastian geopolitik global yang kian memanas, Singapura membidik bank-bank sentral dunia yang mulai cemas dan tengah berburu lokasi alternatif untuk mengamankan serta memperdagangkan cadangan emas mereka.

Benteng Pertahanan Baru di Asia

Para pengamat menilai, Singapura memiliki potensi besar untuk menjadi alternatif regional tepercaya bagi bank sentral di Asia, sekaligus menjadi penantang serius bagi pusat penyimpanan tradisional yang selama berabad-abad didominasi oleh Eropa dan Amerika Serikat (AS).

“With intensification of geopolitical tensions around the world in recent years, many central banks are really thinking about which jurisdiction is most suitable for them to place one of their most important national reserves,” kata Kepala Global Bank Sentral sekaligus Kepala Asia-Pasifik di World Gold Council, Shaokai Fan.

Baca Juga :  Warga Raqqa Serbu Sungai Efrat Cari Emas, Pakar Ingatkan Risiko

Fan menilai bahwa keunggulan hukum menjadi kartu as bagi Singapura.

“I think the rule of law in Singapore and its relative neutrality in world affairs makes it a very attractive place,” ucapnya.

Jika bank-bank sentral asing mulai memindahkan emas mereka ke Singapura, hal ini diperkirakan akan memicu aktivitas perdagangan logam mulia yang masif di pasar lokal.

“It can also serve as a kind of liquidity foundation,” tambah Fan.

Saat ini, brankas-brankas swasta bawah tanah di Singapura telah mengunci logam mulia senilai miliaran dolar. Salah satunya adalah The Safe House Singapore, yang kini menjaga logam mulia senilai sekitar S$4 miliar atau setara Rp54 triliun milik klien dari Eropa, Australia, hingga AS.

“People are looking for safe haven assets because the world is becoming increasingly unpredictable,” tutur pendiri operator brankas logam mulia The Safe House Singapore, Gregor Gregersen.

Baca Juga :  Pengalaman Luar Biasa Astronot NASA dalam Misi yang Diperpanjang

Bagi para klien kaya ini, emas bukan lagi sekadar instrumen investasi biasa, melainkan sebuah rencana cadangan keselamatan demi melindungi kekayaan jangka panjang mereka. Terkait operasional, Gregersen menekankan pentingnya akurasi logistik yang super ketat.

“If you move stuff in and out, you just have to make sure that the precious metal eventually ends up where it’s supposed to be,” jelasnya.

Pelajaran Berharga dari Pembekuan Emas Dunia

Meskipun kapasitas penyimpanan Singapura belum mampu menandingi raksasa dunia seperti Federal Reserve Bank of New York (yang menyimpan hingga 6.000 ton emas) atau Bank of England (5.000 ton), arus perpindahan aset global dinilai tetap akan terjadi.

“The world is going through a significant change right now, so we might see central bank gold starting to move to other places,” papar Fan dari World Gold Council.

Namun, untuk benar-benar merajai industri ini, kepastian hukum yang mutlak tetap menjadi syarat utama. Fan mencontohkan sengketa pembekuan emas milik Venezuela di Bank of England sebagai pelajaran berharga yang harus diantisipasi oleh Singapura terkait kejelasan hak milik.

“The Venezuelan government has been trying to move its gold out of the Bank of England for some time. But because of the lack of recognition of the Maduro regime by the UK government, that has held back the movement of this gold,” jelasnya.

Baca Juga :  Bisnis dan Data Lintas Negara Makin Lancar dalam Kesepakatan Dagang Indonesia-AS

Selain regulasi kepemilikan yang clear saat terjadi konflik politik, integrasi emas ke dalam sistem keuangan modern juga menjadi kunci vital. Emas tidak boleh sekadar menjadi benda mati yang membeku di dalam kegelapan brankas.

“The reason why people should put their gold in custody is if you put your gold under your mattress, it cannot be used because it is segregated from the financial system,” tegas CEO Singapore Bullion Market Association, Albert Cheng.

Jika disimpan di pusat perdagangan yang dinamis, emas tersebut akan menjadi aset yang sangat likuid dan mudah diakses, bahkan dapat digunakan sebagai jaminan untuk aktivitas pasar keuangan lainnya.

Saat ini, Otoritas Moneter Singapura (MAS) dilaporkan tengah merajut kerja sama erat dengan para pelaku industri demi mengembangkan produk investasi emas baru, sekaligus membangun sistem kliring mutakhir untuk mendukung ekosistem perdagangan logam mulia di masa depan.***

Editor : Alysa

Sumber : cnbcindonesia.com