Menggali Naskah Kelam Bumi: El Niño Dahsyat 1876-1878 yang Melenyapkan 3 Persen Populasi Dunia

0
bumi
Ilustrasi tanah kering saat musim kemarau.foto:istock

NARASITODAY.COM, NEW YORKJauh sebelum isu pemanasan global modern menjadi perbincangan sehari-hari, bumi pernah mencatatkan memoar kelam tentang amukan alam yang nyaris melumpuhkan peradaban.

Sebuah studi iklim mendalam kembali membuka tabir kepedihan periode 1876-1878, saat kekeringan ekstrem melanda planet ini dan memicu kelaparan massal global yang mengerikan.

Bencana yang dipicu oleh anomali cuaca El Niño tersebut diperkirakan telah merenggut puluhan juta jiwa, sebuah angka kematian massal yang setara dengan tragedi perang dunia atau pandemi besar dalam sejarah manusia.

“Dari tahun 1876 hingga 1878, kelaparan besar menewaskan antara 30 hingga 60 juta orang di seluruh dunia. Kekeringan melanda sebagian besar planet ini, menyebabkan kekurangan pangan mulai dari Brasil hingga India dan Cina, dan memusnahkan sekitar 3 persen dari populasi,” kata ilmuwan iklim Deepti Singh dari Lamont-Doherty Earth Observatory Universitas Columbia, Amerika Serikat, dikutip dari laman Global Science.

Selama bertahun-tahun, para akademisi berspekulasi bahwa El Niño pola iklim yang dipicu oleh menghangatnya suhu permukaan air di Samudra Pasifik khatulistiwa adalah dalang utama di balik keringnya lahan-lahan pertanian di India, Australia, hingga Amerika Selatan pada masa itu.

Baca Juga :  Ramadan 2026 Diperkirakan Dimulai 19 Februari, Arab Saudi dan Emirat Siapkan Penentuan Hilal

Lewat riset terbarunya, Singh dan tim berhasil menyajikan bukti kuantitatif pertama bahwa petaka lingkungan abad ke-19 ini kemungkinan besar digerakkan oleh aktivitas El Niño terkuat yang pernah terekam oleh instrumen buatan manusia.

Bencana Lingkungan Terburuk dalam 150 Tahun

Dampak destruktif dari fenomena ini kian dipertegas oleh catatan ilmiah dari Jurnal American Meteorological Society. Dalam laporannya, jurnal tersebut melabeli petaka yang terjadi pada akhir abad ke-19 itu sebagai “Kelaparan Global” yang paling parah dan meluas setidaknya dalam 1,5 abad terakhir.

Kekeringan tanpa ampun ini melumpuhkan sektor pangan di berbagai belahan dunia secara serentak, mulai dari Asia Selatan, Asia Timur, Afrika, hingga Amerika Selatan. Dokumentasi sejarah mencatat angka kematian yang memilukan: antara 12,2 hingga 29,3 juta jiwa melayang di India, 19,5 hingga 30 juta nyawa hilang di Cina, dan sekitar 2 juta orang tewas di Brasil.

Baca Juga :  Suami di Pandeglang Diduga Bunuh Istri dan Bayinya, Pelaku Coba Akhiri Hidup

Jurnal American Meteorological Society menggarisbawahi bahwa alam bukanlah satu-satunya faktor tunggal di balik masifnya jumlah korban. Ada andil kesalahan manusia (human error) yang memperparah situasi darurat tersebut.

“Ini bisa dibilang bencana lingkungan terburuk yang pernah menimpa umat manusia dan salah satu malapetaka terburuk dalam setidaknya 150 tahun terakhir, dengan korban jiwa yang sebanding dengan Perang Dunia dan epidemi influenza tahun 1918/1919. Pemicu kelaparan adalah kekeringan akut, tetapi faktor politik dan ekonomi, terutama pengabaian atau penghancuran sistem penyimpanan air dan biji-bijian tradisional, bertanggung jawab atas kegagalan panen yang berujung pada kematian massal yang belum pernah terjadi sebelumnya,” tulis jurnal ilmiah tersebut.

Anomali Cuaca Ekstrem yang Saling Bertubrukan

Melalui rekonstruksi data curah hujan musiman di cekungan Sungai Kuning, studi tersebut mengungkapkan fakta bahwa kekeringan di Tiongkok utara yang memicu gagal panen berturut-turut pada periode tersebut adalah yang paling ekstrem dalam 300 tahun terakhir.

Baca Juga :  5 Hambatan Besar Fresh Graduate untuk Memulai Karier di Negara Asing

Ironisnya, ketika Brasil bagian timur laut gersang akibat kekeringan yang membakar, sebagian wilayah pesisir barat laut serta wilayah Amerika Selatan bagian tenggara justru dihantam oleh anomali sebaliknya sepanjang kurun waktu 1877-1878. Wilayah-wilayah tersebut justru diterjang oleh curah hujan dengan intensitas sangat tinggi dan banjir besar yang datang silih berganti.

Para peneliti menegaskan bahwa situasi ekstrem yang kontradiktif ini melekat kuat pada karakteristik pergerakan anomali El Niño di kawasan Pasifik. Langkah membedah masa lalu ini diharapkan dapat menjadi cermin bagi dunia saat ini dalam memitigasi dampak perubahan iklim global.

“Sejauh pengetahuan kami, tampaknya belum ada analisis dan atribusi penyebab kekeringan skala global sebelumnya pada tahun-tahun sebelum, selama, dan setelah El Niño 1877-78,” pungkas laporan tersebut, menutup urgensi dari pentingnya riset atribusi iklim historis ini.***

Editor : Alysa

Sumber : cnnindonesia.com