NARASITODAY.COM,BRUSSEL – Para pengemudi di seluruh penjuru Eropa terpaksa memotong konsumsi bahan bakar minyak (BBM) mereka secara drastis. Konflik bersenjata di Iran yang memicu lonjakan harga minyak dunia kini menjepit ruang gerak warga, memaksa mereka mengencangkan ikat pinggang setiap kali mengantre di stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) pada Selasa (9/6/2026).
Mengutip data dari Russia Today, Eurostat melaporkan bahwa volume penjualan bensin mobil di Zona Euro merosot tajam hingga 3,5% secara tahunan (year-on-year) pada bulan April.
Penurunan ini tercatat sebagai yang paling curam sejak Oktober 2023. Bahkan, enam negara dengan kekuatan ekonomi besar di Eropa termasuk Jerman, Norwegia, dan Austria harus menghadapi kenyataan pahit dengan penurunan penjualan bahan bakar hingga menyentuh dua digit angka.
Ketika Setiap Tetes BBM Menjadi Kemewahan
Di balik angka-angka statistik yang merosot, ada realitas keseharian warga Eropa yang kini berubah drastis. Menghidupkan mesin mobil tak lagi sekadar rutinitas, melainkan sebuah kalkulasi finansial yang matang.
Jalan-jalan raya di Berlin dan Wina yang biasanya padat kini terasa lebih lengang, berganti dengan ramainya antrean warga di stasiun kereta atau mereka yang memilih mengayuh sepeda demi menghemat pengeluaran.
Hingga awal Juni 2026, harga rata-rata bensin di Uni Eropa bertengger di angka 1,8 euro per liter (setara US$ 2,1 atau Rp 37.800). Angka ini melonjak signifikan dibandingkan harga sebelum perang Iran meletus pada akhir Februari lalu yang masih berada di kisaran 1,5 euro per liter.
Kondisi para pengguna kendaraan bermesin diesel bahkan jauh lebih memprihatinkan. Sebanyak 12 negara Uni Eropa menyaksikan harga diesel meroket lebih dari sepertiga pada bulan April jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu, dengan rata-rata kenaikan di seluruh blok mencapai 33,7%.
Biang keladi dari krisis ini adalah penutupan de facto pada Selat Hormuz akibat perang Iran, ditambah kerusakan parah pada berbagai fasilitas minyak utama di wilayah Teluk. Kondisi tersebut sempat melambungkan harga minyak mentah acuan Brent, yang saat ini masih mengapung di kisaran US$ 94 (Rp 1.692.000) per barel meski angka ini sudah melandai dibanding puncak perang yang sempat menembus US$ 120 (Rp 2.160.000) per barel.
Meski gencatan senjata rapuh telah tercapai antara Amerika Serikat dan Iran, efek domino dari perang ini terus membayangi perekonomian Uni Eropa. Pada akhir Maret, para pejabat Uni Eropa mengungkapkan bahwa tagihan impor bahan bakar fosil blok tersebut membengkak sebesar 14 miliar euro. Tekanan ini langsung berimbas pada inflasi Zona Euro yang merangkak naik ke angka 3,2% pada bulan Mei, dari posisi 3% pada bulan April.
Dampak serupa juga mencekik Inggris. Harga bensin di sana memuncak pada angka 1,59 poundsterling (setara US$ 1,98 atau Rp 35.640). Tekanan ekonomi yang menghimpit ini bahkan memicu tren kriminalitas baru di area pom bensin.
“Inggris telah mengalami peningkatan lebih dari 20% dalam kejahatan isi bensin dan melarikan diri di stasiun pengisian bahan bakar,” tegas pihak perusahaan keamanan Forecourt Eye mengenai maraknya aksi nekat para pengendara tersebut.
Di sisi lain, Indeks Harga Konsumen (IHK) Inggris naik menjadi 3,3% pada bulan Maret. Meskipun sempat mendingin ke posisi 2,8% pada bulan April, para analis memprediksi bahwa pelonggaran ekonomi tersebut hanya akan berumur pendek.
Kesulitan ini nyatanya tidak hanya membelenggu benua biru. Di seberang Samudra Atlantik, para pengemudi di Amerika Serikat (AS) mengalami nasib yang tidak lebih baik. Per tanggal 8 Juni, harga gas rata-rata nasional AS telah menyentuh US$ 4,16 (Rp 74.880) per galon.
Konflik berkepanjangan di Timur Tengah ini pun sukses menguras kantong masyarakat kelas pekerja di AS secara masif.
“Rata-rata rumah tangga AS telah menghabiskan hampir US$ 450 (Rp 8.100.000) lebih banyak untuk biaya energi sejak konflik dimulai,” papar lembaga analisis ekonomi Moody’s Analytics mengenai beratnya beban pengeluaran warga dunia saat ini.***
Editor : Alysa
Sumber : cnbcindonesia.com














