India Fokus Bangun Program Gasifikasi Batu Bara untuk Kurangi Ketergantungan Energi Impor

0
India
Ilustrasi rang-orang membeli bensin dan solar serta mengisi bahan bakar kendaraan mereka di sebuah pompa bensin Indian Oil di Srisailam.Foto : Istock

NARASITODAY.COM,NEW DELHIKetegangan geopolitik Selat Hormuz yang kerap mengguncang pasokan minyak dunia, India kini sedang menatap jauh ke dalam perut buminya sendiri. Demi membentengi diri dari rapuhnya pasokan energi global, New Delhi resmi menggenjot program gasifikasi batu bara secara masif guna memangkas ketergantungan impor energi dari kawasan Timur Tengah.

Langkah strategis ini bukan sekadar rencana di atas kertas. Pemerintah India baru-baru ini telah mengetok palu persetujuan skema insentif raksasa senilai US$3,9 miliar atau setara Rp69,42 triliun. Suntikan dana fantastis ini disiapkan untuk memacu pembangunan proyek-proyek gasifikasi batu bara yang diharapkan mampu memperkokoh ketahanan energi nasional dari hulu hingga hilir.

Namun, para petinggi industri mengingatkan agar kebijakan ini dipandang secara realistis sebagai bagian dari diversifikasi, bukan tongkat sihir yang bisa menghapus seluruh masalah impor dalam semalam.

“Gasifikasi batu bara menciptakan opsi dan ketahanan energi, bukan jalan untuk menghilangkan ketergantungan impor sepenuhnya,” ujar CEO Dastur Energy, Atanu Mukherjee, seperti dikutip dari Channel News Asia, Jumat (19/6/2026).

Mengubah Emas Hitam Menjadi Syngas

Baca Juga :  Antrean Truk Menguat, Bayang Kelangkaan BBM Mengancam Pakistan di Tengah Gejolak Timur Tengah

Berbeda dengan pembangkit listrik konvensional yang membakar batu bara secara langsung dan menyisakan polusi pekat, teknologi gasifikasi bekerja dengan mengubah batu bara menjadi gas sintetis atau syngas.

Melalui proses kimiawi yang kompleks, syngas ini nantinya diolah kembali menjadi komoditas berharga seperti metanol, amonia, gas alam sintetis, hidrogen, hingga dimethyl ether (DME) sebuah zat yang diplot sebagai substitusi utama LPG impor yang selama ini menguras devisa negara.

Bagi India, melirik teknologi ini adalah pilihan yang sangat logis. Negeri Anak Benua ini berdiri di atas cadangan batu bara terbesar kelima di dunia. Ironisnya, di saat yang sama, India masih harus mengimpor sekitar 88% kebutuhan minyak mentah dan hampir separuh dari kebutuhan gas alamnya.

Guna membalikkan keadaan, lewat National Coal Gasification Mission yang diinisiasi sejak 2021, pemerintah mematok target ambisius: menggasifikasi 100 juta ton batu bara per tahun pada 2030.

Namun, jalan menuju kemandirian energi ini diprediksi akan penuh dengan kerikil tajam. Mukherjee memperkirakan India membutuhkan investasi masif antara US$55 miliar hingga US$78 miliar (sekitar Rp979 triliun hingga Rp1.388 triliun) dalam kurun waktu 10 hingga 15 tahun ke depan untuk membangun ekosistem gasifikasi yang matang. Jika berhasil, investasi jumbo ini diklaim mampu memangkas tagihan impor energi negara hingga US$20 billion (Rp356 triliun).

Baca Juga :  97 Persen Penjual E-Commerce Adalah UMKM, Mendag Budi Santoso Siapkan Jaring Pengaman dari Monopoli dan Serbuan Impor

Tantangan Abu Tinggi dan Pelajaran dari Indonesia

Di luar urusan modal, alam memberikan tantangan teknis yang berat. Batu bara domestik India terkenal memiliki kandungan abu (ash content) yang sangat tinggi, mencapai 30% hingga 45%.

Karakteristik ini membuat teknologi gasifikasi yang sukses diterapkan di China tidak bisa serta-merta dicangkok ke India. Belum lagi urusan lingkungan; proses ini membutuhkan pasokan air dalam volume yang luar biasa besar, padahal mayoritas lumbung batu bara India terletak di daerah-daerah yang rentan dilanda kekeringan.

Waktu juga terus memburu. Saat ini, India baru mengoperasikan satu fasilitas gasifikasi skala komersial dengan kapasitas mini, yakni 2 juta ton per tahun. Untuk mengejar target tahun 2030, mereka harus mendirikan puluhan pabrik baru dalam waktu kurang dari lima tahun sebuah misi yang oleh sejumlah pengamat dinilai hampir mustahil.

Baca Juga :  Konsumsi Australia Menanjak di Tengah Demam Konser dan Wisata, Sebelum Bayang-bayang Krisis Energi Melanda

Meski dihujani skeptisisme, India bergeming. Pemerintah berharap stimulus Rp69 triliun yang mereka tebar mampu memikat investasi swasta hingga US$35 miliar (Rp623 triliun). Langkah India ini linier dengan tren di Asia, di mana China tengah menggarap 13 proyek serupa, dan Indonesia telah mengumumkan enam proyek gasifikasi senilai US$9,8 miliar untuk memproduksi DME.

Namun, perjalanan Indonesia justru menjadi lampu kuning bagi India. Laporan dari Institute for Energy Economics and Financial Analysis (IEEFA) menunjukkan bahwa proyek DME berbasis batu bara hanya akan menguntungkan secara ekonomi saat harga LPG impor melambung tinggi. Ketika harga minyak dan LPG dunia merosot, biaya produksi gasifikasi menjadi tidak kompetitif, membuat proyek ini rawan ditinggalkan investor.

Pada akhirnya, para ahli sepakat bahwa gasifikasi batu bara tidak boleh dianggap sebagai obat penawar instan untuk mengatasi krisis energi jangka pendek. Teknologi ini sejatinya adalah investasi jangka panjang sebuah perisai ekonomi yang disiapkan untuk melindungi negara dari potensi lumpuhnya jalur pasokan energi di masa depan.***

Editor : Alysa

Sumber : cnbcindonesia.com