
NARASITODAY.COM, LA PAZ – Setelah dirundung ketegangan hebat selama 50 hari berturut-turut, upaya Pemerintah Bolivia untuk mengakhiri krisis sosial dan politik yang melumpuhkan negara akhirnya menemui titik terang penting pada Minggu (21/6/2026). Sejumlah barikade dan blokade jalan utama yang selama berminggu-minggu menyandera urat nadi perekonomian negara mulai dibuka secara bertahap.
Namun, embusan angin segar ini seketika berubah menjadi duka mendalam. Di tengah operasi penanganan krisis nasional tersebut, sebuah pesawat dukungan militer milik Angkatan Udara Bolivia jatuh di kawasan pegunungan terpencil, menewaskan seluruh enam penumpang di dalamnya.
Terobosan di Meja Perundingan
Berdasarkan laporan Otoritas Jalan Raya Bolivia yang dilansir Reuters, jumlah titik blokade di seluruh negeri kini menyusut drastis menjadi 28 titik. Penurunan ini terjadi pasca-serangkaian negosiasi intensif antara utusan pemerintah dan kelompok demonstran yang mulai membuahkan hasil.
Perkembangan positif ini bergulir tepat satu hari setelah Presiden Bolivia, Rodrigo Paz, mengambil langkah drastis dengan menetapkan status darurat nasional. Langkah darurat ini diambil demi membuka kembali jalur-jalur transportasi utama yang tersumbat, membebaskan ratusan truk logistik yang terjebak, serta memulihkan pasokan krusial seperti makanan, bahan bakar, dan obat-obatan yang sempat tersendat ke berbagai wilayah.
Pada Minggu pagi, Majelis Legislatif Bolivia memberikan dukungan penuh dengan menyetujui dekret keadaan darurat yang diajukan oleh Presiden Paz melalui pemungutan suara mayoritas. Persetujuan parlemen ini diikuti oleh aksi nyata di lapangan.
Di wilayah Santa Cruz, pejabat pemerintah dan perwakilan demonstran resmi menandatangani kesepakatan damai untuk mencabut blokade di kota San Julian sebuah titik vital yang selama ini menjadi salah satu penghambat terbesar arus distribusi logistik. Di saat yang sama, federasi petani berpengaruh Tupac Katari di wilayah La Paz juga mengumumkan penghentian sementara aksi protes mereka.
Kendati demikian, kelompok ini menegaskan bahwa perjuangan belum usai. Mereka tetap mempertahankan tuntutan terkait paket bantuan ekonomi, pembatalan beberapa dekret pemerintah, perlindungan politik dan tenaga kerja, hingga jaminan kualitas bahan bakar.
Akar Krisis dan Bayang-Bayang Evo Morales
Mayoritas demonstran yang turun ke jalan diketahui memiliki kedekatan politik dengan mantan Presiden Evo Morales, tokoh sayap kiri yang masih memiliki pengaruh masif di Bolivia.
Melalui media sosialnya pada hari Minggu, Morales melemparkan tudingan bahwa basis politik utamanya di kawasan Tropic of Cochabamba sebuah wilayah pertanian tropis di Bolivia tengah sedang mengalami intimidasi berupa pemadaman layanan publik secara sengaja. Menurut klaim Morales, daerah tersebut menghadapi pemadaman aliran listrik, gangguan jaringan telepon, hingga pembatasan operasional perbankan.
Gelombang kerusuhan yang mengguncang negeri di bawah kaki Pegunungan Andes ini awalnya dipicu oleh kebijakan kontroversial Presiden Rodrigo Paz yang memangkas subsidi bahan bakar yang telah berjalan lama.
Kebijakan pahit ini diambil guna menekan defisit anggaran negara yang kian membengkak, di tengah menipisnya cadangan devisa dolar AS dan negosiasi paket penyelamatan ekonomi dengan Dana Moneter Internasional (IMF).
Meskipun pemerintah sempat melunak dengan menstabilkan harga bahan bakar dan membatalkan reformasi agraria yang tidak populer, riak ketidakpuasan telanjur meluas. Serikat pekerja dan berbagai elemen masyarakat telanjur turun ke jalan, menuntut kenaikan upah, penyelesaian kelangkaan dolar dan BBM, hingga mendesak Presiden Paz untuk meletakkan jabatannya.
Tragedi Cessna FAB-409 di Langit Andes
Di saat negara sedang berjuang kembali tegak, awan hitam pekat menggelayuti Angkatan Udara Bolivia. Kementerian Pertahanan Bolivia mengonfirmasi bahwa sebuah jet militer jenis Cessna FAB-409 yang sedang menjalankan misi bantuan kemanusiaan jatuh di daerah pegunungan tinggi Andes yang terisolasi di wilayah Departemen Cochabamba.
Pesawat tersebut sedang dalam penerbangan dari kota El Alto menuju Kota Cochabamba ketika kehilangan kendali dan jatuh. Kecelakaan nahas ini merenggut nyawa dua awak pesawat dan empat warga sipil yang berada di dalamnya.
Pihak kementerian masih menutup rapat penyebab pasti kecelakaan dan menyatakan bahwa investigasi mendalam sedang dilakukan. Walau tidak memerinci misi khusus yang diemban pesawat saat jatuh, Kementerian Pertahanan mengungkapkan sebuah fakta menyentuh: dalam beberapa minggu terakhir selama pemblokiran jalan terjadi, pesawat militer yang sama telah menjadi “malaikat pelindung” yang terbang melintasi barikade jalanan untuk mengangkut anak-anak penderita kanker menuju pusat-pusat pengobatan demi menyelamatkan nyawa mereka.***
Editor : Alysa
Sumber : cnbcindonesia.com













