NARASITODAY.COM, MOSKOW – Krisis bahan bakar yang melanda Rusia mulai mengubah pola konsumsi masyarakat. Lonjakan harga bensin dan solar akibat terganggunya pasokan bahan bakar menyebabkan peningkatan signifikan dalam permintaan kendaraan listrik (electric vehicle/EV) buatan China, terutama di kawasan ibukota, Moskow.
Pendiri dealer EN Cars, Yevgeniy Zabelin, mengungkapkan bahwa permintaan kendaraan listrik meningkat pesat sejak situasi pasokan bahan bakar memburuk. “Sejak situasi bahan bakar menjadi rumit, permintaan telah meningkat berkali-kali lipat,” ujarnya kepada Reuters, dikutip Minggu (5/7/2026). Ia menambahkan bahwa minat konsumen tidak hanya terbatas pada model listrik kelas ekonomis, tetapi juga yang bersegmen premium.
Dampak dari Krisis Energi
Gangguan pasokan bahan bakar ini dipicu oleh serangan Ukraina terhadap infrastruktur energi Rusia dalam beberapa pekan terakhir. Kondisi tersebut memicu antrean panjang di SPBU, pembatasan distribusi bahan bakar di banyak wilayah, serta peningkatan harga bensin eceran yang mencapai level tertinggi di Eropa, menurut data Reuters.
Situasi ini langsung berimbas pada pasar otomotif. Zabelin menjelaskan bahwa EN Cars, yang fokus menjual merek-merek China, kini mampu menjual dua hingga tiga unit kendaraan listrik setiap hari. Angka ini melonjak dari rata-rata sebelumnya yang hanya dua hingga tiga unit per bulan.
Tren Penjualan dan Kendala
Direktur Eksekutif lembaga riset Autostat, Sergei Udalov, menyatakan bahwa penjualan kendaraan listrik dan plug-in hybrid memang mengalami peningkatan. Namun, ia menambahkan bahwa ketersediaan stok masih menjadi kendala karena produsen dan importir belum mampu memenuhi lonjakan permintaan.
“Jika krisis bahan bakar ini terus berlanjut, penjualan akan tumbuh signifikan dalam waktu dekat, dan China akan menjadi pihak yang paling diuntungkan,” ujarnya.
Dominasi Merek China dan Data Pasar
Merek-merek China mendominasi pasar kendaraan listrik Rusia saat ini. Berdasarkan data Autostat, model EV dan hybrid terlaris berasal dari Geely, Dongfeng, GAC, dan Chery. Sementara itu, model listrik buatan Rusia yang paling banyak terjual adalah Evolute, yang dirakit menggunakan kit dari Dongfeng.
Data dari Kementerian Perindustrian dan Perdagangan Rusia serta Autostat menunjukkan bahwa penjualan mobil plug-in hybrid mencapai 24.600 unit dari Januari hingga Mei 2026, melonjak 125% dibanding periode yang sama tahun sebelumnya. Sementara itu, penjualan mobil listrik murni meningkat 19%, menjadi 4.460 unit.
Sergei Tselikov dari Autostat mencatat bahwa selama pekan lalu, sebanyak 1.754 kendaraan plug-in hybrid baru didaftarkan, hampir 50% di atas rata-rata mingguan tahun ini, seiring memburuknya krisis bahan bakar.
Tantangan Infrastruktur dan Respons Pengguna
Meski permintaan meningkat, penggunaan kendaraan listrik di Rusia masih menghadapi berbagai tantangan, seperti keterbatasan infrastruktur pengisian daya, jarak antar kota yang jauh, dan kondisi cuaca ekstrem.
Layanan peta digital 2GIS mencatat bahwa jumlah stasiun pengisian daya meningkat sebesar 20% hingga Juli 2026, namun masih belum mampu memenuhi kebutuhan pasar secara optimal.
Salah satu pemilik kendaraan listrik, Vasiliy, mengaku tidak terdampak langsung oleh krisis bahan bakar karena mampu mengisi daya mobilnya di rumah. “Terutama dalam situasi saat ini, saya sama sekali tidak mengalami masalah,” ujarnya.
Namun, ia juga menyatakan bahwa tren lonjakan permintaan kendaraan listrik kemungkinan tidak akan berlangsung lama, mengingat tantangan pengisian daya di Moskow yang masih harus diatasi banyak pengguna.***
Editor : Alysa
Sumber : cnbcindonesia.com













