NARASITODAY.COM, HANOI – Ambisi ramah lingkungan Vietnam tampaknya harus mengalah sementara pada realitas geopolitik dunia. Demi mengamankan pasokan listrik yang menopang pertumbuhan ekonomi masif sebesar 10% di tahun 2026, Pemerintah Vietnam kini mempertimbangkan opsi untuk menambah pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) batu bara baru.
Langkah ini menjadi ironi tersendiri. Pasalnya, dalam beberapa tahun terakhir, Negeri Paman Ho begitu gencar mengampanyekan transisi energi bersih. Namun, meletusnya perang antara Amerika Serikat dan Iran serta karut-marutnya pasokan gas alam cair (LNG) global, memaksa Hanoi realistis demi menjaga ketahanan energi nasional mereka.
“Akhir-akhir ini, konflik yang terjadi di Timur Tengah telah berdampak pada keamanan pasokan LNG, sehingga menimbulkan kebutuhan untuk memperkuat keamanan energi,” bunyi pernyataan resmi pemerintah seperti dikutip dari Reuters, Rabu (8/7/2026).
Melihat situasi global yang tidak menentu, pemerintah mengisyaratkan akan merombak cetak biru energi mereka.
“Pemerintah… mungkin akan menyesuaikan rencana energi nasionalnya untuk menambahkan lebih banyak energi yang dihasilkan dari batu bara ke dalam bauran energi,” tambah pernyataan tersebut.
Target LNG yang Tersendat
Sebelum krisis geopolitik ini memanas, Vietnam sebenarnya memasang target ambisius untuk membangun armada pembangkit listrik berbasis LNG dengan kapasitas total 22,5 gigawatt (GW) pada tahun 2030. Namun, realitas di lapangan berkata lain; hingga saat ini baru 7,3% dari target tersebut yang berhasil terealisasi.
Lambatnya proyek ini dipicu oleh belitan regulasi yang rumit serta minimnya minat dari para investor. Kini, kecemasan tersebut kian diperparah oleh eskalasi konflik AS-Iran yang mengancam jalur distribusi dan keamanan pasokan LNG global.
Dalam draf rencana energi terbarunya, Vietnam memproyeksikan total kapasitas listrik terpasang berada di kisaran 183 hingga 236 GW pada tahun 2030. Dalam komposisi bauran energi yang baru ini, porsi PLTU batu bara dipatok menyumbang 13,1% hingga 16,9%, sementara porsi LNG berada di angka 9,5% hingga 12,3%.
Batu Bara Masih Jadi Tulang Punggung
Bagaimanapun, batu bara terbukti masih menjadi bahan bakar yang paling andal dalam menjaga roda pabrik-pabrik di Vietnam tetap berputar. Berdasarkan data dari perusahaan utilitas negara EVN, produksi listrik Vietnam pada semester pertama tahun ini melonjak 9,8% secara tahunan (year-on-year) mencapai 171,5 miliar kilowatt jam (kWh).
Dari total produksi raksasa tersebut, PLTU batu bara masih mendominasi dengan menyumbang singgasana terbesar, yakni sebesar 54,5%. Di tengah bayang-bayang krisis energi dunia, batu bara yang sempat ingin dipinggirkan, kini justru kembali menjadi penyelamat ekonomi Vietnam.***
Editor : Alysa
Sumber : cnbcindonesia.com














