Aktivis IUQI Tegaskan Pentingnya Independensi Organisasi Mahasiswa di Pilkada

0

NARASITODAY.COM – Kontestasi demokrasi di Pilkada yang semakin dekat menjadi topik hangat di kalangan organisasi mahasiswa.

Di tengah derasnya arus politik, Ahmad Zaky, yang akrab disapa Bung Zeck, seorang aktivis dari Institut Ummul Quro Al-Islami Bogor dan pengurus Forum Mahasiswa Bogor, menekankan pentingnya menjaga independensi organisasi mahasiswa dari politik praktis.

Menurut Bung Zeck, organisasi mahasiswa seharusnya menjadi wadah pengembangan karakter mahasiswa sebagai insan pejuang.

Baca Juga :  Truk Molen Dynamix Gagal Nanjak dan Terjun ke Sungai di Leuwisadeng

“Jangan sampai organisasi mahasiswa dijadikan alat politik yang merusak marwah mahasiswa sebagai penyambung lidah rakyat,” bebernya.

Bung Zeck menyoroti bahwa mahasiswa memiliki peran vital sebagai social control, yang bertugas mengevaluasi dan mengontrol kebijakan pemerintah.

Di samping itu, mahasiswa juga berperan sebagai agen perubahan yang dapat memperbaiki kondisi masyarakat. Namun, ia mengingatkan bahwa idealisme mahasiswa terancam ketika organisasi terlibat dalam politik praktis.

Baca Juga :  Hasil Uji Air Masih Diperiksa, DLH Bogor Siapkan Sanksi Tegas bagi Pelanggar Limbah Ilegal!

“Mahasiswa harus netral dan independen untuk menjaga roda organisasi sesuai anggaran dasar dan tujuan organisasi,” tegasnya.

Ia juga mengkritik keras mahasiswa atau organisasi yang terlibat dalam politik praktis, karena menurutnya hal tersebut mencederai konstitusi internal organisasi mahasiswa yang melarang aktivitas politik praktis.

Bung Zeck mengungkapkan bahwa jika mahasiswa diberi iming-iming materi untuk mendukung kepentingan politik, maka idealisme mereka akan rusak.

Baca Juga :  Hampir 700 Warga Asing Melarikan Diri ke Thailand Usai Operasi Militer di Myanmar

Kata dia, bahwa mahasiswa sebagai agen perubahan, kontrol sosial, dan penyambung lidah rakyat harus selalu berpihak pada kepentingan rakyat, bukan pada kepentingan politik tertentu.

“Jika ada organisasi mahasiswa atau pemimpinnya yang terlibat dalam politik praktis, maka integritas organisasi dan ketuanya patut dipertanyakan,” tutupnya.(Sur/mah/and)