NARASITODAY.COM – Kenaikan Pajak Pertambahan Nilai (PPN) menjadi 12% yang mulai berlaku pada awal bulan ini telah mendorong masyarakat untuk beradaptasi dengan gaya hidup frugal living, di mana mereka lebih selektif dalam pengeluaran dan berusaha mengurangi pemborosan.
Banyak warga yang kini lebih berhati-hati dalam merencanakan anggaran belanja bulanan mereka, memilih untuk membeli barang-barang yang benar-benar diperlukan dan menghindari pengeluaran yang tidak esensial. Dalam situasi ini, banyak orang mulai menyadari pentingnya perencanaan keuangan yang matang untuk menghadapi kondisi ekonomi yang semakin menantang.
PPN 12% Dorong Masyarakat untuk Mengadopsi Frugal Living dan Mengurangi Pemborosanseorang ibu rumah tangga bernama Siti Nurhaliza mengungkapkan bahwa ia kini lebih cermat dalam memilih produk yang akan dibeli.
“Sebelum PPN naik, saya tidak terlalu memperhatikan harga. Sekarang, saya selalu membandingkan harga dan mencari diskon sebelum memutuskan untuk membeli. Saya bahkan membuat daftar belanja agar tidak tergoda membeli barang-barang yang tidak perlu,” ujarnyaÂ
Hal serupa juga diungkapkan oleh Ahmad, seorang mahasiswa, yang mengatakan bahwa ia kini lebih sering memasak di rumah daripada makan di luar. “Saya merasa perlu menghemat uang, jadi saya mulai belajar memasak dan mengurangi jajan di luar. Selain itu, saya juga memanfaatkan aplikasi belanja online untuk mencari promo dan diskon,” tambahnya.Â
Para ahli ekonomi juga mencatat bahwa perubahan perilaku konsumsi ini dapat berdampak positif dalam jangka panjang, karena masyarakat akan lebih sadar akan pentingnya pengelolaan keuangan yang baik.
“Meskipun kenaikan PPN dapat menjadi beban bagi banyak orang, namun ini juga bisa menjadi momentum bagi masyarakat untuk lebih bijak dalam mengelola keuangan mereka,” kata Dr. Rina Sari, seorang ekonom dari Universitas Indonesia.Â
Seiring waktu, gaya hidup hemat ini bisa menjadi kebiasaan positif yang tidak hanya bermanfaat saat kondisi sulit tetapi juga berkontribusi pada kesehatan finansial jangka panjang individu dan keluarga.
“Kami percaya bahwa dengan kesadaran dan pengetahuan yang tepat tentang pengelolaan keuangan, masyarakat dapat menghadapi tantangan ekonomi dengan lebih baik,” tutup Dr. Rina Sari.***














