NARASITODAY.COM – Pergantian tahun membawa kenaikan signifikan pada harga cabai di Pasar Tradisional Leuwiliang, Kabupaten Bogor.
Harga sejumlah jenis cabai dilaporkan melonjak hingga 50 persen, dampak dari minimnya hasil panen dan perubahan cuaca.
Kenaikan ini dirasakan langsung oleh para pedagang. Firman, seorang pedagang sayur di pasar tersebut, mengungkapkan bahwa harga cabai mulai meroket sejak tahun baru.
“Kenaikannya mencapai 50 persen dari harga sebelumnya. Ini benar-benar melonjak tajam sejak awal tahun,” ujarnya, Rabu (8/1).
Kenaikan harga ini tak pelak memicu keluhan dari para pembeli. Firman mengaku sering mendengar keluhan terkait harga cabai yang semakin mahal.
“Pasti ada saja yang mengeluh setiap hari. Banyak pembeli yang merasa keberatan dengan kenaikan ini,” tambahnya.
Selain cabai, harga beberapa komoditas lainnya seperti tomat, kentang, dan bawang juga mengalami kenaikan. Firman berharap agar harga segera kembali normal untuk meringankan beban masyarakat.
“Saya berharap harga bisa turun lagi, supaya masyarakat tidak terlalu terbebani,” harapnya.
Pihak Pasar Benarkan Kenaikan Harga
Kepala Pasar Tohaga Leuwiliang, Mulyadi, membenarkan adanya kenaikan harga cabai dan kebutuhan pokok lainnya. Ia menjelaskan bahwa kenaikan harga ini dipicu oleh pasokan yang terbatas dan kondisi cuaca yang kurang mendukung.
“Kenaikan memang ada, terutama pada cabai, karena faktor pasokan dan perubahan cuaca. Persentase kenaikannya bisa mencapai 20 hingga 50 persen,” jelasnya.
Meski demikian, Mulyadi menyebutkan bahwa kenaikan signifikan hanya terjadi pada cabai, meskipun beberapa komoditas lain juga mengalami penyesuaian harga.
“Dari semua komoditas, yang paling signifikan naik memang cabai,” katanya.
Mulyadi mengimbau masyarakat agar tidak terlalu risau dengan kenaikan harga ini. Ia mendorong masyarakat untuk lebih bijak dalam mengelola pengeluaran.
“Kami mengimbau masyarakat untuk lebih hemat dan mengatur keuangan dengan baik selama harga masih tinggi,” tutupnya (man)














