Menteri ESDM Bahlil Lahadalia Ungkap Penurunan Lifting Minyak RI, Soroti Peran IMF dalam Kebijakan

0
Menteri ESDM Bahlil Lahadalia Ungkap Penurunan Lifting Minyak RI, Soroti Peran IMF dalam Kebijakan

NARASITODAY.COM – Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, mengkritik Dana Moneter Internasional (IMF) yang menurutnya menjadi faktor utama dalam penurunan lifting minyak. Dia menyatakan bahwa kebijakan yang disarankan oleh IMF telah memberikan dampak negatif bagi sektor minyak Indonesia.

Bahlil mengawali pembicaraannya dengan membandingkan kondisi produksi minyak Indonesia pada tahun 1996-1997 dengan saat ini. Pada masa tersebut, Indonesia mampu menghasilkan sekitar 1,6 juta barel minyak per hari (bph) dengan konsumsi domestik hanya sekitar 600 ribu bph. Hal ini memungkinkan Indonesia untuk mengekspor sekitar 1 juta bph. Namun, situasi ini berubah secara signifikan setelah terjadinya reformasi.

Baca Juga :  Kementerian ESDM Targetkan Pembangunan Proyek Pembangkit Listrik Sampah Bisa Dimulai Pertengahan 2026

“Setelah reformasi, banyak perubahan yang terjadi, termasuk rekomendasi IMF waktu itu. IMF adalah ‘dokter’ yang membantu kita, namun ada juga kesalahan dari ‘dokter’ ini,” kata Bahlil dalam acara Mandiri Investment Forum (MIF) 2025 yang dikutip pada Rabu (12/2/2025).

Bahlil menyesalkan salah satu kebijakan yang terkait dengan perubahan regulasi di sektor migas, yang menurutnya didorong oleh rekomendasi IMF. Perubahan undang-undang migas ini, menurut Bahlil, turut menyebabkan penurunan berkelanjutan dalam lifting minyak nasional.

Baca Juga :  Rahasia Krispi dan Juicy! Resep Chicken Cordon Bleu Ala Hotel yang Bikin Nagih

“Saya ingin membuktikan bahwa saran dari ‘dokter’ ini salah. Mereka mendorong kita untuk mengubah undang-undang migas, dan apa yang terjadi? Lifting kita terus menurun sejak 1996-1997,” ujarnya.

Dia menambahkan bahwa lifting minyak Indonesia sempat mengalami kenaikan pada tahun 2008 ketika produksi dimulai di Lapangan Banyu Urip, Blok Cepu. Namun, setelah mencapai puncaknya, lifting minyak terus menurun hingga saat ini berada di bawah 600 ribu bph.

Baca Juga :  Pemerintah Siapkan Kebijakan LPG 3 Kg Satu Harga Mulai 2026, Subsidi Diharapkan Lebih Tepat Sasaran

“Sekarang, bagaimana strategi untuk meningkatkan lifting? Presiden Prabowo menargetkan agar pada 2028-2029, lifting kita sudah harus mencapai antara 700.000 hingga 1 juta barel per hari. Ini adalah tantangan besar yang membutuhkan kerja keras,” ujarnya.***

Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel