Fenomena Sepinya Pusat Perbelanjaan Jelang Lebaran 2025: Daya Beli Masyarakat yang Menurun

0
Ilustrasi Pusat Perbelanjaan

NARASITODAY.COM – Menjelang Lebaran 2025, pusat-pusat perbelanjaan di Indonesia menunjukkan pemandangan yang berbeda dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Biasanya, momen Idul Fitri menjadi saat yang ramai dengan aktivitas berbelanja dan berpergian, namun kali ini tampak sepi. Fenomena ini menjadi sorotan berbagai pihak, termasuk para ekonom.

Agus Santoso, Ekonom Bank Mandiri, mengungkapkan bahwa kondisi ini berpotensi menyebabkan perputaran uang selama periode Lebaran 2025 menjadi lebih lambat dibandingkan tahun lalu. “Memang ada indikasi konsumsi masyarakat di Lebaran tahun ini cenderung defensif,” ungkap Agus, pada Selasa (25/3/2025).

Baca Juga :  Cabup Rudy Susmanto Hadiri Konsolidasi dengan Partai Koalisi, Irman Nurcahyan Targetkan 85 Persen Kemenangan di Dapil 6

Lebih lanjut, Agus menjelaskan bahwa kondisi sepi di pusat perbelanjaan menjelang Lebaran 2025 ini juga tercermin dalam data Mandiri Spending Index yang menunjukkan penurunan yang signifikan.

“Data Mandiri Spending Index per Maret ini hanya tumbuh 1,4% secara mingguan, merosot tajam dibandingkan dengan pertumbuhan data indeks pada periode yang sama tahun lalu sebesar 4,7% secara mingguan,” tambahnya.

Fenomena ini menandakan bahwa konsumsi masyarakat pada periode jelang Lebaran kali ini memang cenderung lebih berhati-hati. Menurut Agus, ada beberapa faktor yang berkontribusi terhadap kondisi ini.

Baca Juga :  Deflasi Berturut-turut di Indonesia: Antisipasi Kenaikan Harga Jelang Lebaran Jadi Prioritas

Salah satunya adalah penurunan jumlah orang yang mudik dan menurunnya mobilitas masyarakat secara keseluruhan. “Sehingga dalam hal ini menyebabkan perputaran uang juga melambat di Lebaran tahun ini,” ujarnya.

Namun, Agus juga menegaskan bahwa meskipun ada penurunan daya beli masyarakat, fenomena ini bukan disebabkan oleh lemahnya likuiditas pasar keuangan domestik. Menurutnya, masyarakat hanya lebih berhati-hati dalam mengeluarkan uang dan menahan belanja.

“Satu hal yang positif, yang masih kita lihat dalam hal ini adalah likuiditas di market. Jadi kalau kita lihat dari sisi M2 real growth-nya kemudian kalau kita lihat juga data uang kuartal yang ada di cash on hand di masyarakat saat ini juga masih tumbuh positif,” jelas Agus.

Baca Juga :  Kawal Hak Pekerja, Posko THR & BHR Tetap Siaga di Tengah Libur Lebaran 2026

Di tengah fenomena penurunan konsumsi ini, Agus optimis bahwa kondisi keuangan domestik masih relatif stabil, meskipun daya beli masyarakat menjelang Lebaran 2025 mengalami penurunan. Meski perputaran uang di pusat perbelanjaan melambat, namun likuiditas pasar dan tingkat tabungan masyarakat masih menunjukkan tanda-tanda positif.***