Kekerasan di Papua: Masyarakat Diminta Tenang dan Tidak Terprovokasi

0
Serangan Brutal KKB di Yahukimo: 10 Guru dan Tenaga Kesehatan Jadi Korban

NARASITODAY.COM – Dalam sebuah insiden yang mengguncang Kabupaten Yahukimo, Papua Pegunungan, kelompok kriminal bersenjata (KKB) melancarkan serangan brutal terhadap 10 guru dan tenaga kesehatan. Penyerangan yang terjadi selama dua hari berturut-turut pada 21 dan 22 Maret 2025 ini melibatkan sekitar 15 pelaku yang menggunakan senjata tajam.

“Dari hasil olah TKP, diketahui bahwa kejadian berlangsung selama dua hari berturut-turut. Kelompok pelaku yang berjumlah sekitar 15 orang menyerang guru-guru honorer menggunakan senjata tajam,” ungkap Brigjen Faizal Ramadhani.

Baca Juga :  Beban Pajak Tinggi, Ratusan Ribu Warga Swiss Pilih Keluar dari Gereja

Serangan tersebut berlangsung di tiga lokasi di Distrik Anggruk, menewaskan seorang guru bernama Rosalia Rerek Sogen dan menyebabkan tujuh lainnya mengalami luka-luka. Faizal menjelaskan, “Korban meninggal dunia ditemukan dengan sejumlah luka parah di tubuh, di antaranya luka robek di leher, luka tusuk di pinggang, dan patah tulang terbuka di tangan.”

Baca Juga :  ATR/BPN Perkuat Koordinasi Respons Aduan Masyarakat

Selain menganiaya para guru, KKB juga melakukan perusakan fasilitas umum. “Para pelaku menggunakan senjata tajam, membakar dua unit rumah dinas guru, merusak tujuh ruang kelas sekolah,” tambahnya.

Kejadian ini menambah daftar panjang kekerasan di wilayah tersebut dan menunjukkan tantangan serius yang dihadapi oleh masyarakat setempat. Dalam situasi yang penuh ketegangan ini, pihak kepolisian mengimbau masyarakat untuk tetap tenang dan tidak terprovokasi oleh isu-isu yang dapat memperkeruh suasana.

Baca Juga :  Pentingnya Kewaspadaan: 5 Langkah untuk Terhindar dari Penyakit Menular Saat Banjir

Kombes Pol Yusuf Sutejo dari Satgas Humas Ops Damai Cartenz 2025 menyatakan, “Kami juga meminta kerja sama aktif masyarakat untuk melaporkan informasi penting terkait pelaku.”

Serangan ini bukan hanya menjadi sorotan media tetapi juga mengundang keprihatinan luas tentang keselamatan tenaga pendidik dan kesehatan di daerah rawan konflik seperti Papua.***