NARASITODAY.COM – Pemberitaan global mengenai konflik di Gaza, sebuah kisah pilu datang dari seorang jurnalis foto Palestina, Fatima Hassona. Bersama dengan sepuluh anggota keluarganya, nyawanya direnggut oleh gempuran zionis Israel di wilayah Gaza utara.
Ironisnya, kabar duka ini datang hanya sehari setelah film dokumenter yang menampilkan dirinya, “Put Your Soul on Your Hand and Walk,” terpilih untuk tayang di ajang bergengsi Cannes Film Festival mendatang, melalui seleksi Association of Independent Cinema for Distribution (ACID).
Film yang mengangkat kisah Fatima ini merupakan karya dari sutradara asal Iran, Sepideh Farsi. Bagi Sepideh, Fatima bukan sekadar subjek film, melainkan sosok yang penuh cahaya dan harapan. Dalam wawancaranya dengan harian Prancis Le Monde, Sepideh menggambarkan Fatima dengan ungkapan yang menyentuh, menyebutnya sebagai “matahari”.
“Dia meliput perang di Gaza, kadang-kadang bekerja sama dengan media dengan mengirimkan foto dan video. Setiap hari dia mengirimi saya foto, pesan tertulis, dan klip audio. Setiap pagi, saya bangun dan bertanya-tanya apakah dia masih hidup,” ungkap Sepideh, seperti dilansir Euronews.com.
Kata-kata ini menggambarkan betapa dekatnya hubungan mereka dan betapa besar kekhawatiran Sepideh terhadap keselamatan Fatima di tengah zona konflik yang berbahaya.
Beberapa jam sebelum tragedi itu terjadi, Fatima sempat mengunggah sebuah foto senja dari balkon rumahnya di media sosial. “Ini adalah matahari terbenam pertama setelah sekian lama,” tulisnya dalam unggahan tersebut. Kata-kata sederhana ini menyimpan kerinduan akan kedamaian dan ketenangan di tengah situasi yang serba tidak pasti.
Dalam unggahan sebelumnya, Fatima seolah telah memiliki firasat tentang akhir hidupnya. Ia menulis sebuah pesan yang kuat dan mendalam tentang kematian dan warisan yang ingin ditinggalkannya
“Mengenai kematian yang tak terelakkan, jika aku mati, aku menginginkan kematian yang menggelegar, aku tak ingin diriku masuk dalam berita yang heboh, atau masuk dalam kelompok, aku menginginkan kematian yang didengar oleh dunia, jejak yang bertahan selamanya, dan gambaran abadi yang tak dapat dikubur oleh waktu maupun tempat.” Kata-kata ini kini terasa begitu profetik, sebuah refleksi mendalam tentang arti hidup dan kematian di tengah konflik yang berkecamuk.
Kematian Fatima, seorang lulusan Fakultas Ilmu Terapan Universitas di Gaza, menambah daftar panjang jurnalis yang menjadi korban kekerasan di wilayah tersebut. Federasi Jurnalis Internasional (IFJ) memperkirakan bahwa setidaknya 157 jurnalis dan pekerja media telah terbunuh sejak dimulainya perang Israel di Gaza. Bahkan, laporan lain menyebutkan angka yang lebih mengerikan, kemungkinan melebihi 200 jiwa.
IFJ menyampaikan duka cita mendalam atas kehilangan Fatima dan mengecam keras berlanjutnya penargetan jurnalis oleh Israel. Melalui akun X mereka @IFJGlobal, IFJ menekankan perlunya mengakhiri impunitas Israel atas tindakan kekerasan terhadap para pekerja media.
“Pembantaian ini harus dihentikan,” tegas IFJ dalam keterangannya, seraya menyerukan penyelidikan segera dan independen atas pembunuhan para jurnalis.
Sekretaris Jenderal IFJ, Anthony Belanger, menyatakan bahwa jurnalis di zona konflik harus diperlakukan layaknya warga sipil dan diizinkan untuk menjalankan tugas mereka tanpa gangguan. “Ada berbagai kepentingan global yang luas terhadap apa yang terjadi di Gaza, tetapi kita hanya dapat melihat kebenaran jika jurnalis diizinkan mengaksesnya,” ujarnya.
Euronews dalam laporannya menggambarkan Fatima Hassona bukan hanya sebagai seorang jurnalis, tetapi juga sebagai “suara kemanusiaan dan gambaran yang tak terlupakan dalam sejarah kota yang mati dan terlahir kembali setiap hari.” Lebih lanjut, media tersebut menulis, “Karyanya menjadi saksi realitas yang tidak pernah berhenti didokumentasikannya hingga saat-saat terakhir.”
Kepergian Fatima Hassona meninggalkan duka yang mendalam bagi dunia jurnalisme dan komunitas internasional. Kisahnya menjadi pengingat yang menyakitkan akan bahaya yang dihadapi para pencari kebenaran di zona konflik dan pentingnya untuk terus menyuarakan keadilan dan mengakhiri kekerasan. “Matahari” Gaza telah padam, namun warisannya sebagai saksi bisu konflik akan terus bersinar melalui karya-karya yang telah ia tinggalkan.***














