Israel Klaim Serang 670 Target Hamas, Namun Korban Sipil dan Jurnalis Berjatuhan

0
Israel Klaim Serang 670 Target Hamas, Namun Korban Sipil dan Jurnalis Berjatuhan

NARASITODAY.COM – Di balik asap dan reruntuhan yang tak kunjung reda di langit Gaza, dentuman serangan kembali menggema. Kali ini, suara ledakan datang dari Operasi Kereta Perang Gideon sebuah ofensif militer besar-besaran yang diumumkan Israel pada Minggu (18/5).

Dengan kekuatan penuh dari pasukan reguler dan cadangan di bawah Komando Selatan, serta dukungan dari angkatan udara, operasi ini menjadikan wilayah utara dan selatan Gaza sebagai target utama, termasuk rumah-rumah sakit yang selama ini menjadi benteng terakhir bagi harapan hidup warga Palestina.

“Setidaknya 36 orang tewas dan lebih dari 100 orang terluka ketika pesawat tempur Israel mengebom sebuah kamp tenda yang melindungi warga Palestina yang mengungsi di daerah al-Mawasi, Khan Younis, di Gaza selatan,” ungkap sumber medis kepada Al Jazeera, Senin (19/5/2025).

Kamp tersebut bukanlah basis militer. Di situlah para pengungsi keluarga yang telah kehilangan rumah dan tempat tinggal mencari perlindungan. Namun tak ada tempat yang benar-benar aman di Gaza. Bahkan tenda darurat pun kini tak lagi kebal dari rudal.

Baca Juga :  PWI Kabupaten Bogor Gelar Safari Jurnalis di Cisarua, Dorong Literasi Digital dan Jurnalistik

Kementerian Kesehatan Gaza mencatat lonjakan angka kematian hanya dalam seminggu terakhir. “Setidaknya 464 warga Palestina tewas dalam seminggu terakhir saat militer Israel bersiap untuk mengintensifkan invasi daratnya ke wilayah Palestina meskipun ada kritik internasional. Setidaknya 53.339 warga Palestina tewas dan 121.034 terluka sejak dimulainya perang pada Oktober 2023,” bunyi pernyataan resmi mereka.

Di balik angka-angka itu, ada kisah anak-anak, ibu hamil, para lansia, dan tenaga medis yang tak pernah berhenti berjaga.

Salah satu titik paling memprihatinkan dalam serangan ini adalah Rumah Sakit Indonesia di Gaza utara. Rumah sakit yang dulunya menjadi simbol solidaritas internasional kini terpaksa berhenti beroperasi setelah dikepung militer Israel sejak dini hari, Minggu (18/5).

Baca Juga :  Perjalanan Panjang Palestina Menuju Pengakuan Diplomatik Berujung di Kedutaan Resmi di Inggris

“Situasinya bencana,” kata Marwan al-Sultan, direktur rumah sakit, dengan suara berat dalam wawancaranya bersama Al Jazeera. Ia meminta organisasi internasional untuk turun tangan dan menjamin keselamatan para petugas medis yang masih berada di dalam fasilitas tersebut.

Suara serupa datang dari Dr. Muhammad Abu Salmiya, direktur Rumah Sakit al-Shifa, yang menilai bahwa serangan terhadap fasilitas medis seperti Rumah Sakit Indonesia bisa berdampak sangat fatal.

“Ribuan orang sakit dan terluka bisa meninggal,” katanya, sambil memperingatkan bahwa stok darah sangat minim dan bantuan medis sangat dibutuhkan.

Di tengah kekacauan itu, tudingan terhadap militer Israel semakin keras disuarakan. Dr. Muhammad Zaqout, direktur jenderal rumah sakit di Gaza, mengecam keras tindakan Israel.

“Israel sengaja membunuh orang yang terluka dengan mencegah mereka mencapai rumah sakit dan langsung menargetkan pasien, yang terluka, dan staf medis di dalam rumah sakit,” tegasnya.

Baca Juga :  Sheikh Hasina Terancam Hukuman Mati atas Dugaan Pembantaian Demonstran di Bangladesh

Tidak hanya Rumah Sakit Indonesia yang menjadi sasaran. Rumah Sakit al-Awda di Jabalia dan Rumah Sakit Gaza Eropa di selatan pun tak luput dari pemboman.

Sementara itu, pihak Israel mengklaim telah menyerang lebih dari 670 lokasi di Gaza selama seminggu terakhir. Mereka menyebut semua serangan ditujukan pada “target Hamas”, baik yang berada di atas maupun di bawah tanah. Namun, fakta di lapangan menunjukkan lain mayoritas korban adalah warga sipil, termasuk lima jurnalis yang ikut kehilangan nyawa pada hari Minggu pagi.

Di balik operasi militer ini, bukan hanya infrastruktur yang luluh lantak. Rasa aman, martabat, dan kemanusiaan pun perlahan hancur, satu demi satu, di tengah dunia yang kian sunyi menyaksikannya.***