Teknologi Drone Jadi Senjata Kunci dalam Perang Rusia-Ukraina 2025

0
Teknologi Drone Jadi Senjata Kunci dalam Perang Rusia-Ukraina 2025

NARASITODAY.COM – Langit malam di Rusia barat berpendar oleh kilatan cahaya dan ledakan. Suara dentuman menggema dari perbatasan hingga ke jantung negeri, Moskow. Dalam konflik modern yang terus bereskalasi, perang antara Rusia dan Ukraina tak lagi terbatas pada darat dan udara dalam arti tradisional. Kini, ribuan kendaraan tak berawak drone mengisi medan laga baru.

Pada Rabu malam yang mencekam, Kementerian Pertahanan Rusia mengumumkan bahwa lebih dari 370 drone Ukraina telah dihancurkan dalam waktu kurang dari 24 jam. “Dari pukul 20.00 hingga 23.50 waktu Moskow, sebanyak 77 drone telah dihancurkan,” bunyi pembaruan resmi kementerian, dikutip dari Reuters, Kamis (22/5/2025).

Drone-drone ini tidak hanya menargetkan wilayah perbatasan RusiaUkraina, tetapi juga menyusup jauh ke wilayah tengah Rusia, bahkan mendekati ibu kota. Sebanyak 27 drone berhasil dicegat saat dalam perjalanan menuju Moskow, menurut Wali Kota Moskow Sergei Sobyanin. Ia memastikan tidak ada korban jiwa dalam insiden tersebut.

Baca Juga :  Bentrokan di Serbia Memanas, Protes Antipemerintah Berujung Kekerasan di Novi Sad

Namun, ancaman itu cukup besar untuk memaksa tiga bandara utama Moskow menghentikan operasionalnya dua kali dalam satu hari. Bandara-bandara tersebut, yang melayani lebih dari 21 juta jiwa di wilayah metropolitan Moskow, sempat lumpuh demi menjamin keselamatan lalu lintas udara dari kemungkinan serangan drone yang melintas.

Di sisi lain konflik, militer Ukraina menyatakan bahwa operasi drone mereka telah berhasil menargetkan fasilitas strategis milik Rusia. Serangan diarahkan ke Pabrik Semikonduktor Bolkhovsky di wilayah Oryol pemasok komponen penting untuk sistem tempur dan rudal milik Rusia. Operasi itu memperlihatkan kemampuan Ukraina dalam menyerang titik vital Rusia yang berjarak ratusan kilometer dari garis depan.

Baca Juga :  Laki P45 Bongkar Dugaan Pungli di TPAS Galuga, Uang Jutaan Perhari Ngalir ke Oknum Kades

Ketegangan seperti ini bukanlah hal baru dalam perang yang telah berlangsung lebih dari tiga tahun. Tapi eskalasi terbaru menunjukkan bahwa perang ini telah berkembang menjadi laboratorium militer tanpa batas.

Baik Rusia maupun Ukraina kini mengandalkan teknologi drone dalam skala belum pernah terjadi sebelumnya. Mereka mengembangkan sistem navigasi otomatis, sinyal pengacau, dan bahkan alat-alat penghancur sederhana yang digunakan petani untuk menjatuhkan drone musuh.

Di balik sorotan terhadap perang teknologi, pertempuran di medan darat juga masih berlangsung sengit. Dalam pidato malamnya, Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky menegaskan bahwa konflik paling intens saat ini terjadi di sekitar Pokrovsk, wilayah timur Ukraina.

Baca Juga :  Pemadaman Listrik Massal Melanda Ukraina dan Moldova, Penyebab Masih Diperdebatkan

Namun, Zelensky tak menyebut adanya kemajuan dari pihak Rusia. Sebaliknya, ia menyatakan bahwa pasukan Ukraina tetap aktif melakukan operasi di wilayah perbatasan Rusia, termasuk di Kursk dan Belgorod.

Berbeda dari itu, pihak Rusia justru mengklaim kemajuan militer di titik-titik strategis. Sejumlah blogger pro-Rusia menyebut bahwa pasukan Rusia telah berhasil menembus garis pertahanan Ukraina antara Pokrovsk dan Kostiantynivka di wilayah Donetsk.

Sementara ledakan dan serangan udara masih terjadi hampir setiap hari, dunia internasional terus mendorong penyelesaian diplomatik. Amerika Serikat dan negara-negara Eropa memperbarui seruan mereka untuk gencatan senjata dan perundingan. Namun di lapangan, kenyataannya semakin jauh dari perdamaian.***