Akses Jalan Mulai Terbuka, Desa Sukaluyu Terus Benahi Wilayah Rawan Longsor

0
Sekertaris Desa Sukaluyu, Kecamatan Nanggung, Kabupaten Bogor, Iip Maulana di ruang kerjanya Selasa (10/06/2025). Foto dok : Andres

NARASITODAY.COM- Pemerintah Desa Sukaluyu, Kecamatan Nanggung, Kabupaten Bogor, terus berupaya membuka akses jalan dan menanggulangi bencana longsor yang kerap terjadi di wilayah perbukitan tersebut.

Sekretaris Desa Sukaluyu, Iip Maulana, saat ditemui di ruang kerjanya pada Selasa (10/6/2025), mengatakan bahwa pembangunan infrastruktur jalan terus dilakukan secara bertahap.

“Masih banyak daerah yang belum bisa dimasuki kendaraan roda dua maupun roda empat. Tapi di periode ketiga kepemimpinan Lurah Aos, Alhamdulillah beberapa titik sudah hampir selesai dibuka aksesnya,” ujarnya.

Baca Juga :  Penanganan Pascabencana Dipercepat, Ketua DPRD dan Pemkab Bogor Tinjau Wilayah Terdampak

Desa Sukaluyu, yang memiliki jumlah penduduk sekitar 7.000 jiwa dengan 2.000 kepala keluarga (data tahun 2025) berada di kawasan perbukitan yang rawan longsor.

Berdasarkan data pemerintah desa, sedikitnya dua hingga tiga kejadian longsor terjadi setiap tahun, meski dalam skala kecil.

“Pernah pada tahun 2018, hampir satu hektare sawah longsor. Daerah sini memang rawan karena banyak tebing yang mengancam rumah warga dan area pertanian,” ungkapnya.

Baca Juga :  PJU di Bantarkaret Akhirnya Diperbaiki, Tinggal Akses Jalan Masih Rusak

Menindaklanjuti kerawanan tersebut, pemerintah desa mengikuti arahan dari tim geologi dengan mengalihkan sejumlah lahan pertanian rawan longsor menjadi area perkebunan pepohonan. Selain itu, pembangunan tembok penahan tanah (TPT) terus ditingkatkan.

“Sekarang sudah bisa diantisipasi. Tahun kemarin lewat program Samisade, kita bangun jalan sekaligus TPT di titik-titik rawan,” bebernya.

Baca Juga :  Peringati HUT ke-118, INI Kabupaten Bogor Gelar Seminar Full Day Bahas Regulasi Terkini Perseroan Terbatas

Dia menjelaskan, bahwa Desa Sukaluyu merupakan desa hasil pemekaran dari Desa Hambaro pada tahun 1984. Sekitar 35 persen warganya dikategorikan kurang mampu. Mayoritas masyarakatnya bekerja sebagai petani dan pedagang.

“Banyak warga yang bertani di desa, tapi saat musim tanam selesai, mereka ke kota untuk berdagang, misalnya jualan roti,” jelas Iip mengakhiri.