Subsidi Listrik 2025 Diprediksi Lampaui APBN, Apa Dampaknya bagi Ekonomi?

0
Ilustrasi token Listrik

NARASITODAY.COM – Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) memprediksi bahwa subsidi listrik hingga akhir tahun 2025 akan mengalami kenaikan dan melampaui besaran yang telah direncanakan dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2025.

Direktur Jenderal Ketenagalistrikan Kementerian ESDM, Jisman P. Hutajulu, menyampaikan bahwa proyeksi subsidi listrik tahun ini mencapai Rp 90,32 triliun, lebih tinggi dibanding alokasi dalam APBN yang sebesar Rp 87,72 triliun.

“Kalau kami hitung untuk outlook 2025 ada Rp 90,32 triliun. Memang ini dipicu oleh parameter yang tidak bisa dikendalikan. Paling tidak ada 3 yakni ICP, kurs dan inflasi. Jadi ya kurs ini memang sangat menentukan yang selalu naik terus. Sehingga ada kenaikan di sampingnya,” ujar Jisman dalam Rapat Dengar Pendapat bersama Komisi XII DPR RI, dikutip Selasa (1/7/2025).

Baca Juga :  Pemadaman Listrik Massal Melanda Ukraina dan Moldova, Penyebab Masih Diperdebatkan

Ia menjelaskan bahwa lonjakan subsidi tersebut disebabkan oleh faktor eksternal seperti fluktuasi harga minyak mentah (ICP), nilai tukar rupiah terhadap dolar AS, serta tingkat inflasi yang berdampak pada biaya penyediaan energi listrik nasional.

Baca Juga :  Presiden Prabowo Pimpin Rapat Terbatas Bahas Percepatan Hilirisasi Nasional

Pada tahun sebelumnya, yakni 2024, realisasi subsidi listrik tercatat sebesar Rp 77,05 triliun. Dana tersebut sebagian besar digunakan untuk mensubsidi kelompok pelanggan rumah tangga dengan daya 450 VA dan 900 VA, yang masuk dalam kategori tidak mampu.

Hingga Mei 2025, realisasi serapan subsidi listrik telah mencapai Rp 34,59 triliun. Meskipun terjadi kenaikan nilai subsidi, Jisman mencatat bahwa konsumsi listrik nasional juga meningkat, seiring dengan pertumbuhan penjualan listrik yang menjadi indikator positif kondisi ekonomi.

Baca Juga :  PLTN di Kalbar? Potensi Thorium dan Uranium Buka Peluang Energi Bersih Indonesia

“Lalu ada juga volume penjualan ya. Dari 2020 itu sekitar 55 Tera Watt hour (TWh) naik hampir 12 TWh. Naik lagi di 2024 71 sekitar 16 TWh cukup besar. Target kita 2025 73 TWh. Dan sudah menyerap di Mei 2025 itu sekitar 31 TWh. Target outlooknya prognosisnya 76,63 TWh. Jadi ada penambahan penjualan mungkin lebih baik ekonominya barangkali. Sehingga penggunaan listriknya juga bertambah,” jelasnya.***