NARASITODAY.COM – Fenomena picky eater atau kebiasaan anak dalam memilih-milih makanan kerap kali dianggap sebagai sikap rewel atau malas makan oleh sebagian orang tua maupun masyarakat umum.
Padahal, di balik perilaku yang tampak sederhana itu, terdapat faktor-faktor biologis dan psikologis yang kompleks dan perlu dipahami secara lebih dalam. Salah persepsi terhadap kondisi ini bisa berujung pada penanganan yang tidak tepat dan berisiko mengganggu proses tumbuh kembang anak secara jangka panjang.
Untuk membantu orang tua memahami pola makan anak yang tergolong picky eater dengan lebih bijak, berikut lima hal penting yang patut menjadi perhatian:
1. Picky Eater Bukan Hanya Karena Malas Makan
Anggapan bahwa anak picky eater hanya enggan makan atau sedang “manja” sering kali memunculkan stigma dan perlakuan yang kurang adil. Faktanya, menurut para ahli gizi anak, perilaku ini bisa disebabkan oleh kombinasi faktor genetik, sensitivitas terhadap tekstur, aroma, atau rasa tertentu, serta pengalaman traumatis terkait makanan—misalnya rasa mual atau tersedak di masa lalu. Oleh karena itu, pendekatan yang terlalu menekan justru bisa membuat anak semakin menolak makan.
2. Picky Eater Tidak Selalu Kekurangan Nutrisi
Walaupun tampak membatasi pilihan makan, banyak anak picky eater tetap mendapatkan asupan nutrisi yang cukup melalui makanan favorit yang mereka konsumsi secara berulang. Meski demikian, jika kebiasaan ini berlangsung lama dan tidak diimbangi dengan variasi makanan sehat, maka risiko defisiensi zat gizi seperti zat besi, kalsium, atau vitamin bisa muncul. Penting bagi orang tua untuk secara perlahan memperkenalkan makanan baru yang bernutrisi tanpa memaksa.
3. Picky Eater Bisa Berlanjut hingga Dewasa
Picky eating bukan hanya perilaku sementara yang akan hilang seiring bertambahnya usia. Banyak kasus menunjukkan bahwa kebiasaan ini dapat terbawa hingga masa remaja bahkan dewasa, memengaruhi pola makan harian dan kualitas hidup secara keseluruhan. Ketidaksukaan terhadap berbagai jenis makanan bisa berdampak pada pilihan sosial seperti makan bersama atau penerimaan terhadap menu baru, sehingga penanganan sejak dini menjadi krusial.
4. Faktor Keturunan dan Lingkungan Berperan Besar
Studi menunjukkan bahwa kebiasaan makan anak sangat dipengaruhi oleh faktor keturunan dan pola pengasuhan dalam keluarga. Anak dapat mewarisi sensitivitas rasa dari orang tua, dan juga meniru kebiasaan makan orang dewasa di sekitarnya. Jika orang tua cenderung memiliki preferensi makanan yang terbatas, besar kemungkinan anak akan menunjukkan pola yang serupa. Selain itu, lingkungan makan yang penuh tekanan atau kurang menyenangkan dapat memperburuk kebiasaan picky eating.
5. Pendekatan Bijak dan Sabar adalah Kunci
Menghadapi anak picky eater bukanlah tantangan yang bisa diatasi dengan instruksi tegas atau hukuman. Dibutuhkan strategi yang empatik dan penuh kesabaran, seperti menyajikan makanan dengan tampilan menarik, memperkenalkan berbagai tekstur dan rasa secara bertahap, serta menciptakan suasana makan yang nyaman dan bebas stres. Pujian kecil saat anak mencoba makanan baru juga bisa menjadi motivasi positif.
Memahami picky eating dari perspektif ilmiah dan psikologis membantu orang tua untuk tidak gegabah dalam menilai atau menangani kebiasaan makan anak. Alih-alih terpancing emosi, gunakan informasi yang benar sebagai fondasi pendekatan yang lebih mendukung dan konstruktif. Dengan cara ini, anak bisa tumbuh menjadi pribadi yang memiliki hubungan sehat dengan makanan dan pola konsumsi yang seimbang.***














