Musik dan Politik Beradu, Koil Minta Penggemar Gunakan Versi Asli Lagu untuk Suarakan Kritik

0
Koil
Band rock Koil menyatakan keberatan atas penggunaan lagu Kenyataan Dalam Dunia Fantasi versi kolaborasi dengan The Rock dalam konten-konten kritis terhadap DPR.(Foto : voi.id)

NARASITODAY.COM – Band rock asal Bandung, Koil, menyampaikan kekecewaannya terhadap Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) melalui unggahan di media sosial. Mereka meminta agar lagu Kenyataan Dalam Dunia Fantasi versi kolaborasi dengan The Rock tidak digunakan dalam konten-konten yang bersifat kritis terhadap DPR. Permintaan ini muncul karena vokalis The Rock, Ahmad Dhani, merupakan anggota DPR yang tengah menjadi sorotan publik terkait kinerjanya.

Baca Juga :  Mediasi Kasus Dugaan Pencemaran Nama Baik Azizah Salsha Belum Capai Titik Damai

“Ini bukan tentang royalti atau urusan bagus jelek,” tulis Koil dalam pernyataan resmi yang diunggah di Instagram, berkolaborasi dengan gitaris Donnijantoro alias Donitoro, pada Rabu (3/9/2025).

Konflik Simbolik dalam Lagu Protes

Koil menilai penggunaan versi kolaborasi tersebut dalam konten protes menjadi kontradiktif, mengingat keterlibatan Ahmad Dhani sebagai bagian dari lembaga yang sedang dikritik.

Baca Juga :  Menyambut Milestone Usia 20, Naura Ayu Siapkan Proyek Musik yang Penuh Makna

“Lagu Kenyataan Dalam Dunia Fantasi banyak sekali dipakai untuk mengiringi konten-konten kritis saat ini. Jadi kalau digunakan protes untuk DPR tapi ada vokal dari anggota DPR juga ya konsepnya kan jadi gimana gitu kocak,” ungkap mereka.

Versi Asli Tetap Direkomendasikan

Sebelumnya, Donitoro juga menyarankan agar masyarakat menggunakan versi asli lagu tersebut sebagai latar konten perjuangan. Ia menekankan pentingnya memilih versi yang sesuai dengan semangat kritik yang ingin disampaikan. “Pilih lagu yang ada logo blacklight ya, bukan yang versi lain,” ujar sang gitaris.

Baca Juga :  Komentar Kontroversial Anggota DPR soal Donasi Banjir Rp10 M Bikin Geger Publik

Pernyataan Koil ini menjadi bagian dari gelombang ekspresi publik yang semakin vokal dalam menyikapi dinamika politik nasional, termasuk melalui medium musik dan seni.***

Editor : Alysa

Sumber : detik.com