
NARASITODAY.COM, BEIJING — Lebih dari 1.700 bank di berbagai belahan dunia kini menggunakan mata uang yuan melalui Cross-Border Interbank Payment System (CIPS), sistem pembayaran lintas batas yang dikelola oleh China. Perkembangan ini dinilai sebagai sinyal kuat bahwa dominasi dolar Amerika Serikat dalam perdagangan internasional mulai goyah.
Menurut data yang dikutip dari The Economist, CIPS telah memproses transaksi lintas negara senilai 175 triliun yuan atau sekitar Rp402.325 triliun sepanjang tahun 2024. Angka ini menunjukkan lonjakan 43% dibandingkan tahun sebelumnya. Jaringan CIPS kini mencakup institusi keuangan dari Turki, Mauritius, Uni Emirat Arab, serta ekspansi baru ke kawasan Afrika dan Timur Tengah.
“Yuan mencapai level tertinggi sejak Trump terpilih kembali. Investor asing dan banyak pemerintah kini mencari alternatif dolar,” tulis laporan media tersebut, Selasa (16/9/2025).
Kebangkitan yuan terjadi di tengah penurunan tajam nilai dolar AS. Sejak Januari, dolar telah merosot sebesar 7%, menjadikannya awal tahun terburuk sejak 1973. Penurunan ini dipengaruhi oleh berbagai faktor, termasuk kebijakan perdagangan Presiden Donald Trump yang tidak konsisten, meningkatnya defisit fiskal, serta kekhawatiran terhadap independensi The Federal Reserve.
Berbeda dengan sistem SWIFT yang didominasi oleh dolar, CIPS memungkinkan transaksi diselesaikan langsung dalam yuan. Hal ini memberi keuntungan bagi eksportir dan mitra dagang China untuk menghindari ketergantungan pada mata uang AS.
Han Kwee Juan, Head of Institutional Banking Group DBS, mengonfirmasi tren ini. “Saat ini, Anda lihat para eksportir China mulai bertanya: saya akan menjual dalam RMB (renminbi/yuan), silakan selesaikan dalam RMB,” ujarnya kepada Reuters. “Saya pikir tren ini akan berlanjut
Peralihan ke yuan juga sejalan dengan strategi negara-negara anggota BRICS yang tengah memperkuat cadangan emas, menguji sistem pembayaran berbasis mata uang lokal, dan mendiskusikan tatanan keuangan global yang tidak lagi bergantung pada pasar Treasury AS.
Para analis memperingatkan bahwa jika tren ini terus berlanjut, permintaan terhadap dolar di luar negeri bisa menurun drastis dan berpotensi memicu tekanan inflasi di dalam negeri AS.
Di sisi lain, kebangkitan CIPS dianggap sebagai langkah signifikan dalam pergeseran kekuatan finansial global menuju Asia, sekaligus memperkuat posisi yuan sebagai salah satu fondasi baru sistem moneter internasional.***
Editor : Alysa
Sumber : cnbcindonesia.com













