
NARASITODAY.COM, WASHINGTON – Pemerintah Amerika Serikat mengumumkan sanksi terbaru terhadap dua raksasa energi Rusia, Rosneft dan Lukoil, sebagai upaya menekan Moskow agar bersedia bernegosiasi untuk mengakhiri konflik di Ukraina. Pengumuman ini datang sehari setelah Presiden Donald Trump menyatakan bahwa rencana pertemuannya dengan Presiden Vladimir Putin di Budapest ditunda tanpa batas waktu.
“Setiap kali saya berbicara dengan Vladimir, pembicaraannya baik, tapi tak pernah menghasilkan apa pun,” ujar Trump.
Meski dampak ekonomi langsung terhadap Rusia diperkirakan tidak signifikan, kebijakan ini mencerminkan pergeseran besar dalam pendekatan diplomatik Gedung Putih di bawah kepemimpinan Trump. Sebelumnya, Washington enggan menjatuhkan sanksi baru sebelum negara-negara Eropa menghentikan pembelian minyak dari Rusia.
Trump telah beberapa kali mengancam akan bertindak tegas terhadap Kremlin, namun menunda langkah tersebut demi menjaga peluang menjadi penengah dalam konflik yang telah berlangsung lebih dari tiga tahun. Pemerintahannya berusaha menempatkan AS sebagai pihak netral, berbeda dari pendekatan pendahulunya, Joe Biden, yang secara terbuka mendukung Ukraina.
Namun, frustrasi Trump terhadap kurangnya kemajuan dari pihak Rusia semakin meningkat. Ia berharap sanksi ini bisa menjadi pemicu perubahan. “Saya rasa waktunya sudah tiba. Kami sudah menunggu cukup lama,” katanya, menyebut paket sanksi tersebut sebagai “tremendous” dan berharap bisa dicabut jika Rusia menghentikan perang.
Menteri Keuangan AS, Scott Bessent, menyatakan bahwa tindakan ini diperlukan karena Putin terus melanjutkan perang yang disebutnya “tak masuk akal.” Ia menuding Rosneft dan Lukoil sebagai penyokong utama mesin perang Kremlin.
Data dari pemerintah Inggris menunjukkan bahwa Rosneft menyumbang hampir 50% produksi minyak Rusia, yang mencakup sekitar 6% pasokan global. Kedua perusahaan tersebut mengekspor sekitar 3,1 juta barel minyak per hari, dengan pelanggan utama seperti China, India, dan Turki. Trump juga menyerukan agar negara-negara tersebut menghentikan pembelian minyak Rusia guna memperlemah ekonomi Moskow.
Presiden Ukraina, Volodymyr Zelensky, menyambut baik langkah AS dan menyebutnya sebagai sinyal positif. Ia percaya bahwa gencatan senjata bisa tercapai jika tekanan internasional terhadap Rusia semakin meningkat.
Zelensky sebelumnya mengunjungi Gedung Putih untuk meminta sistem rudal jarak jauh Tomahawk, namun ditolak oleh Trump yang menilai sistem tersebut terlalu rumit dan membutuhkan pelatihan selama satu tahun.
Rencana pertemuan antara Trump dan Putin awalnya muncul setelah panggilan telepon dari Putin, namun dibatalkan setelah diskusi antara Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio dan Menlu Rusia Sergei Lavrov. Trump menegaskan bahwa ia tidak ingin pertemuan yang “sia-sia.”
Sementara itu, konflik di Ukraina masih berlangsung. Serangan Rusia ke Kyiv pada Rabu malam menewaskan sedikitnya dua orang, menyusul bombardemen sebelumnya yang menewaskan tujuh orang termasuk anak-anak.
Langkah AS ini mengikuti keputusan Inggris yang pekan lalu juga menjatuhkan sanksi terhadap Rosneft dan Lukoil. Menteri Keuangan Inggris, Rachel Reeves, menyatakan bahwa “tidak ada tempat bagi minyak Rusia di pasar global.”
Namun, Kedutaan Rusia di London mengkritik kebijakan tersebut, menyebutnya berpotensi mengganggu pasokan energi dunia dan memperburuk eskalasi.
Dari Eropa, Presiden Komisi Eropa Ursula von der Leyen memuji paket sanksi baru Uni Eropa yang melarang impor gas alam cair Rusia mulai 2028. “Ini adalah sinyal tegas dari kedua sisi Atlantik bahwa tekanan terhadap agresor akan terus berlanjut,” ujarnya.
Sekretaris Jenderal NATO, Mark Rutte, yang hadir di Gedung Putih saat pengumuman sanksi, menyambut baik langkah tersebut. Ia dijadwalkan membahas rencana 12 poin yang disusun oleh negara-negara Eropa dan Kyiv, termasuk pembekuan garis depan, pemulangan anak-anak yang dideportasi, pertukaran tahanan, pembentukan dana pemulihan perang, serta jaminan keamanan bagi Ukraina menuju keanggotaan Uni Eropa.
Namun, proses perdamaian masih menemui jalan buntu. Rusia menolak gencatan senjata di garis depan saat ini dan bersikeras bahwa Ukraina harus menarik pasukannya dari wilayah Donbas timur, syarat yang hingga kini menjadi penghalang utama dalam negosiasi.***
Editor : Alysa
Sumber : Berbagai Sumber













