Air Isi Ulang Kini Jadi Gaya Hidup Hemat, Banyak Konsumen Rumah Tangga Ikut Beralih

0
Air
Ilustrasi produksi aqua. Foto : olenka.id

NARASITODAY.COM, JAKARTA – Minat masyarakat terhadap air minum isi ulang terus mengalami peningkatan, terutama di wilayah perkotaan. Air isi ulang dianggap lebih praktis dan fleksibel dibandingkan air minum dalam kemasan (AMDK) seperti Aqua.

Selain itu, harganya yang jauh lebih terjangkau menjadikannya pilihan utama bagi kalangan ekonomi menengah ke bawah. Untuk satu kali isi ulang, konsumen hanya perlu merogoh kocek mulai dari Rp 5.000, sedangkan harga AMDK bisa mencapai Rp 18.000 atau lebih.

Menariknya, kemajuan teknologi dalam proses penyaringan dan pengisian air turut mendorong masyarakat kelas menengah ke atas untuk mulai mempertimbangkan penggunaan air isi ulang.

Baca Juga :  Jelajahi 5 Danau Terindah di Michigan, Surga Wisata Air di Amerika Serikat

“Di Depo air isi ulang kenapa lebih murah, ya karena biaya produksinya lebih murah dari pabrik, yang penting ada ruko, kemudian modal penyimpanan, alat filterisasi, pengisian dan pembersihan. Kalau yang besar-besar kan harus ada quality control, ada penilaian lainnya,” ujar Kurniawan, seorang pedagang air isi ulang kepada CNBC Indonesia, Selasa (28/10/2025).

Air galon isi ulang menggunakan wadah yang bisa dipakai berulang kali, umumnya berupa galon plastik berbahan PET yang tahan lama. Penggunaan kemasan ini membantu menekan biaya produksi dan pengemasan, sehingga harga jualnya pun lebih murah.

Baca Juga :  Lebih dari 100 Ribu Pohon untuk Indonesia Hijau, EIGER Adventure Land Berkomitmen Ekowisata

“Kalau di sini kan engga perlu tiap hari harus beli galon kosong bersih, kalau galon dari konsumer masih oke, ya kita tinggal isi ulang saja, beda kalau merek besar, karena pernah saya denger, itu saja kalau sudah lama sekali, galon harus dipotong-potong untuk didaur ulang,” jelas Kurniawan.

Berbeda dengan AMDK yang memerlukan biaya besar untuk kemasan dan branding, air isi ulang biasanya dijual langsung dari depot atau distributor tanpa proses tambahan tersebut.

Baca Juga :  Aliansi Jurnalis Bogor Gelar Bakti Sosial di Desa Cinangka

“Skalanya UMKM bukan industri,” kata Yosep, pengusaha depot air galon isi ulang.

Biaya untuk mendirikan depot air isi ulang pun relatif rendah. Dengan dana sekitar Rp 50 juta, sudah bisa mendapatkan ozon generator dan dua mesin filter. Bahkan, dengan anggaran Rp 17 juta, depot bisa dibangun tanpa mesin ozon. Menurut Yosep, air isi ulang kini bukan hanya kebutuhan rumah tangga, tetapi juga bagian dari gaya hidup hemat.

“Kalau AMDK kayak Aqua itu biaya produksi besar, pengajuan lab lebih ketat, jadi wajar harga mereka mahal,” tutupnya.***

Editor : Alysa

Sumber : cnbcindonesia.com