NARASITODAY.COM, JAKARTA – Dengan tatapan penuh khidmat, Migi Rihasalay menatap kain merah dan putih yang terbentang di hadapannya. Jarum dan benang di tangannya bergerak perlahan, menjahit tiap helai menjadi satu kesatuan utuh — Sang Merah Putih. Ia sengaja menjahit dengan tangan, bukan mesin, sebagai bentuk penghormatan terhadap sejarah perjuangan bangsa.
“Bendera ini saya jahit sendiri dengan tangan, seperti para pejuang dulu yang memperlakukan Sang Pusaka dengan penuh rasa hormat,” ujar Migi.
Bagi Migi, setiap tusukan jarum adalah simbol cinta, dedikasi, dan penghargaan terhadap perjuangan para pendahulu. Ia meyakini bahwa warna merah dan putih bukan sekadar kombinasi kain, melainkan lambang dari keberanian dan kesucian niat yang menyatukan Indonesia hingga kini.
Semangat nasionalisme Migi telah tumbuh sejak ia duduk di bangku SMP. Melalui kegiatan ekstrakurikuler Paskibra, ia belajar arti kedisiplinan, tanggung jawab, dan kebanggaan sebagai bagian dari generasi muda penerus bangsa. Dedikasinya terus berlanjut hingga SMA, di mana ia berhasil lolos seleksi dan menjalani karantina sebagai anggota Paskibra tingkat provinsi DKI Jakarta.
Selama tiga tahun aktif di Paskibra, Migi tak hanya mendapatkan pengalaman berharga, tetapi juga memperoleh beasiswa pendidikan hingga tamat SMA. Ia bahkan mendapat kepercayaan besar untuk menjadi pengibar bendera di kantor provinsi (KANDEPAK DKI Jakarta) — sebuah kehormatan yang menjadi puncak perjuangan masa pelajarnya.
“Waktu itu, saya benar-benar merasa punya peran dalam menjaga makna Merah Putih. Mengibarkan bendera bukan hal kecil, karena di sana ada simbol perjuangan dan semangat persatuan,” kenangnya.
Salah satu momen paling berkesan baginya terjadi pada peringatan Hari Kemerdekaan tahun 2008, saat ia bertugas sebagai bagian dari Tim 17, tim khusus pengibar bendera di upacara resmi KANDEPAK DKI Jakarta. Di bawah terik matahari dan tatapan khidmat para peserta, Migi mengangkat Sang Merah Putih dengan rasa bangga yang tak tergantikan.
Kini, setiap kali Migi menjahit bendera dengan tangannya, kenangan itu seolah kembali hadir. Jarum dan benang menjadi simbol pengabdian yang ia rawat dengan cinta — cara kecilnya menjaga agar api kebangsaan tetap menyala. (MG3)
“Bagi saya, Merah Putih bukan hanya kain dua warna,” tutupnya penuh makna. “Ia adalah pengingat agar kita tidak lupa dari mana kita berasal, dan untuk siapa kita berjuang.”
Editor : Mutiara
Sumber : tabloidbintang.com














