NARASIITODAY.COM, JAKARTA – Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) telah menyelesaikan evaluasi terhadap kebijakan 7 Kebiasaan Anak Indonesia Hebat (KAIH) yang sudah berjalan hampir satu semester. Hasil evaluasi ini mengejutkan Kepala Pusat Penguatan Karakter (Kapuspeka) Kemendikdasmen, Rusprita Putri Utami.
Rusprita membeberkan bahwa ditemukan fakta mengejutkan mengenai pola makan siswa sebanyak 45% murid SMK dan 42% murid SMA dilaporkan mengonsumsi mi instan setiap hari. Ia menilai makanan instan ini sangat berdampak pada kesehatan dan dapat mengganggu fokus siswa saat belajar.
“Ini jadi PR (pekerjaan rumah) ya Bapak-Ibu, dengan dia mengonsumsi makanan yang instan dan lain-lain, itu sangat memengaruhi kesehatan. Kalau sudah nggak sehat, gimana mau belajar secara fokus dan optimal,” katanya.
Temuan konsumsi makanan tidak sehat ini berkaitan erat dengan salah satu aspek dalam 7 KAIH, yaitu aspek makan bergizi. Rusprita menegaskan bahwa ketujuh kebiasaan yang ditetapkan dalam program tersebut saling mempengaruhi satu sama lain dan tidak berdiri sendiri.
“Kebutuhan utama manusia adalah makan, makan sehat dan bergizi. Jadi kalau anak-anak ini sudah punya kebiasaan makan sehat dan bergizi, itu ternyata punya dampak positif terhadap kebiasaan yang lain,” tegasnya.
Selain aspek makan sehat dan bergizi, hasil evaluasi menunjukkan bahwa berolahraga merupakan kebiasaan yang paling bermasalah bagi anak-anak Indonesia. Hal ini sejalan dengan ungkapan populer bahwa anak-anak Indonesia cenderung “mager” atau malas bergerak.
“Jadi ternyata anak-anak kita emang beneran mager, Bapak-Ibu, malas gerak,” ungkapnya.
Temuan Kemendikdasmen ini juga relevan dengan hasil Cek Kesehatan Gratis (CKG) dari Kementerian Kesehatan (Kemenkes) yang menunjukkan bahwa kebugaran anak-anak Indonesia menghadapi masalah serius.
Untuk menanggapi masalah ini, Rusprita menyarankan agar siswa dapat mempraktikkan kebiasaan 7 KAIH dan Senam Anak Indonesia Hebat agar mereka terus aktif bergerak. Senam ini disebut sebagai versi modern dari Senam Kesehatan Jasmani (SKJ) di masa lalu.
Ia menutup pernyataannya dengan harapan untuk mengembalikan kebiasaan aktif bergerak pada anak-anak:
“Kami ingin mengajak anak-anak untuk aktif bergerak (seperti) zaman dulu kan kita ada SKJ. Gerakannya sama dan nggak berubah. Kita ingin sekali sebenarnya anak-anak balik kayak kita dulu, masih mau gerak, masih mau bermain secara aktif,” tandasnya.***
Editor : Alysa
Sumber : detik.com














