NARASITODAY.COM, WASHINGTON — Setelah 43 hari lumpuh, roda pemerintahan Amerika Serikat akhirnya kembali berputar. Kamis (13/11/2025) menandai berakhirnya shutdown terpanjang dalam sejarah negeri itu sebuah krisis yang bukan hanya melumpuhkan layanan publik, tetapi juga mengguncang kehidupan jutaan warga dan memperdalam jurang politik di Washington.
Selama lebih dari enam pekan, lalu lintas udara terganggu akibat absennya pengendali lalu lintas, bantuan pangan bagi 42 juta warga berpenghasilan rendah terancam, dan lebih dari satu juta pegawai federal dipaksa bekerja tanpa bayaran. Namun, meski pemerintah kembali dibuka, luka politik yang memicu krisis ini belum sembuh.
Paket pendanaan yang disepakati tidak memberikan pembatasan berarti terhadap Presiden Donald Trump dalam hal penahanan anggaran sebuah praktik yang kerap dipandang menantang kewenangan konstitusional Kongres. Isu subsidi kesehatan yang hampir kedaluwarsa, pemicu utama penolakan Partai Demokrat terhadap rancangan anggaran, juga belum terselesaikan.
Di balik layar, drama politik terus bergulir. Penutupan ini memperlihatkan perpecahan internal di tubuh Partai Demokrat antara faksi progresif yang menuntut sikap keras terhadap Trump dan kelompok moderat yang merasa terkekang selama Partai Republik masih menguasai kedua kamar Kongres. Pemimpin Mayoritas Senat Demokrat Chuck Schumer pun berada dalam tekanan, meski ia tetap menolak mendukung kesepakatan tersebut.
Gedung Putih mengumumkan bahwa pegawai federal yang bekerja tanpa bayaran akan mulai menerima gaji tertunda pada Sabtu, dan seluruh pembayaran dijanjikan selesai paling lambat Rabu pekan depan. Kantor manajemen kepegawaian federal juga memerintahkan lembaga-lembaga yang sempat memecat pegawai untuk mencabut keputusan itu dalam waktu lima hari.
Namun, di mata publik, tidak ada pemenang. Survei Reuters/Ipsos menunjukkan 50% warga menyalahkan Partai Republik atas penutupan ini, sementara 47% menyalahkan Partai Demokrat. Dan dengan kesepakatan pendanaan hanya berlaku hingga 30 Januari, bayang-bayang krisis baru sudah mulai mengintip di awal tahun depan.
Berbeda dari shutdown sebelumnya, kali ini tidak ada perdebatan besar soal utang nasional AS yang telah menembus US$38 triliun. Fokus justru tertuju pada subsidi kesehatan yang terancam, memicu kekhawatiran akan nasib sekitar 24 juta warga.
“Kesehatan rakyat Amerika adalah perjuangan yang layak diperjuangkan,” ujar anggota DPR dari Georgia, Hank Johnson, kepada Reuters. “Rakyat kini lebih memahami besarnya risiko yang kita hadapi, dan karena itulah mereka ingin kita tetap berjuang.”
Meski demikian, Partai Demokrat belum memperoleh jaminan konkret atas perpanjangan subsidi tersebut. Mereka hanya mendapat janji bahwa Senat akan menggelar pemungutan suara tanpa kepastian hasil.
Menariknya, sejumlah anggota Partai Republik kini menyuarakan argumen yang dulu sering dilontarkan Demokrat, bahwa shutdown bukanlah alat tawar yang pantas. “Kita seharusnya secara hukum dilarang menutup pemerintahan,” kata anggota DPR dari Partai Republik, Brian Fitzpatrick. “Menggunakan shutdown sebagai alat tawar kebijakan adalah hal gila dan menjadi preseden yang berbahaya.”
Di lapangan, kehidupan perlahan kembali normal. Ribuan penerbangan yang sempat dibatalkan kini mulai beroperasi kembali. Program bantuan pangan SNAP juga kembali berjalan, dengan Kementerian Pertanian menyatakan sebagian besar negara bagian akan menerima dana penuh dalam 24 jam.
Namun, dampak shutdown tak mudah dihapus. Ratusan ribu pegawai federal tetap bekerja tanpa gaji, sementara yang dianggap non-esensial diperintahkan berhenti bekerja. Berdasarkan undang-undang tahun 2019, mereka dijanjikan gaji tertunda, meski sempat ada ancaman dari Gedung Putih untuk menahan pembayaran.
Trump sendiri sempat berupaya memecat ribuan pegawai federal sebagai bagian dari rencana pemangkasan program domestik yang didukung Demokrat. Namun, kesepakatan yang dicapai menangguhkan rencana tersebut hingga akhir Januari. Presiden menargetkan pemangkasan 300.000 pegawai dari total 2,2 juta aparatur sipil negara pada akhir tahun.
Dampak ekonomi shutdown juga terasa di sektor keuangan. Publikasi data ekonomi penting tertunda, membuat investor dan The Fed bekerja dalam ketidakpastian. Kepercayaan konsumen terguncang menjelang musim belanja akhir tahun.
Kantor Anggaran Kongres (CBO) memperkirakan penundaan belanja pemerintah sebesar US$50 miliar dan penurunan pertumbuhan PDB sebesar 1,5 poin persentase. Sekitar US$14 miliar diperkirakan hilang secara permanen.***
Editor : Alysa
Sumber : Berbagai Sumber













