NARASITODAY.COM, WASHINGTON – Presiden Amerika Serikat Donald Trump menegaskan bahwa militer AS berada dalam posisi siap tempur untuk melanjutkan serangan terhadap Teheran jika Iran menolak menyetujui kesepakatan damai. Kendati demikian, Trump mengisyaratkan bahwa Washington masih bersedia menahan diri selama beberapa hari ke depan demi menunggu respons dari pihak Iran.
Melansir laporan Reuters, Kamis (21/5/2026), pernyataan tersebut disampaikan Trump di hadapan para wartawan di Joint Base Andrews pada Rabu waktu setempat. Situasi geopolitik saat ini dinilai berada di titik paling kritis setelah enam pekan dibukanya gencatan senjata pasca-Operasi Epic Fury.
Pembicaraan damai yang sempat memicu harapan global kini justru berjalan di tempat, sementara tekanan domestik terhadap Trump kian membesar akibat lonjakan harga bensin yang mulai menggerus popularitasnya.
Di bawah deru mesin pesawat militer yang menjadi latar belakang, Trump memberikan peringatan keras dengan nada bicara yang tak sabar.
“Percayalah, jika kami tidak mendapatkan jawaban yang tepat, semuanya bisa bergerak sangat cepat. Kami semua siap bergerak,” kata Trump di Joint Base Andrews.
Saat didesak oleh awak media mengenai seberapa lama Washington akan menunggu itikad baik dari Teheran, Trump memberikan jawaban singkat.
“Bisa beberapa hari, tetapi semuanya juga bisa bergerak sangat cepat,” tambahnya.
Ketegangan di Selat Hormuz
Yang mencekam kini menyelimuti jalur pelayaran energi paling vital di dunia, Selat Hormuz. Alih-alih melunak akibat ancaman Washington, Teheran justru mempertebal benteng pertahanannya. Garda Revolusi Iran secara terbuka memperingatkan bahwa agresi baru dari AS akan memicu “perang regional yang dijanjikan akan meluas melampaui kawasan kali ini.”
Sebagai langkah nyata di lapangan, Teheran resmi meluncurkan “Persian Gulf Strait Authority” atau Otoritas Selat Teluk Persia. Badan baru ini didirikan khusus untuk memegang kendali penuh atas lalu lintas kapal tanker yang melintasi Selat Hormuz. Langkah sepihak ini langsung membuat pasar energi global menahan napas, membayangkan bayang-bayang blokade total.
Meski menyadari risiko fatal tersebut, Trump kembali menegaskan sikap tidak kompromi AS terkait ambisi pertahanan Teheran.
“Kita berada di tahap akhir dengan Iran. Kita lihat saja apa yang terjadi. Entah ada kesepakatan atau kami akan melakukan beberapa hal yang agak buruk, tetapi semoga itu tidak terjadi,” ujar Trump.
Ia menambahkan bahwa dirinya lebih memilih meminimalkan korban jiwa dibandingkan harus terlibat dalam perang besar-besaran yang menguras energi.
Diplomasi di Bawah Tekanan dan Ilusi Menyerah
Di balik retorika perang yang membara, pintu-pintu diplomasi belakang layar sebenarnya masih diupayakan. Trump dilaporkan telah menjalin komunikasi via telepon dengan Presiden Turki Recep Tayyip Erdoğan, yang menyambut baik perpanjangan gencatan senjata dan menilai solusi damai yang “masuk akal” masih sangat mungkin dicapai. Selain itu, Menteri Dalam Negeri Pakistan juga mendarat di Teheran pada Rabu sebagai perantara pesan darurat antara kedua belah pihak.
Namun, rasa saling percaya di antara kedua negara berada di titik nadir. Ketua Parlemen Iran sekaligus negosiator utama perdamaian, Mohammad Baqer Qalibaf, menuduh gerakan intelijen maupun militer AS di lapangan menunjukkan bahwa Washington sebenarnya sedang mempersiapkan serangan udara baru.
Presiden Iran Masoud Pezeshkian secara diplomatis menyatakan negaranya tetap membuka pintu negosiasi, namun dengan tegas menolak segala bentuk intimidasi dari Gedung Putih.
“Memaksa Iran menyerah melalui paksaan tidak lebih dari ilusi,” tulis Pezeshkian melalui akun media sosial X miliknya.
Sikap skeptis ini diperkuat oleh Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei. Ia mengatakan bahwa meskipun Iran menjalani negosiasi dengan serius dan itikad baik, mereka tetap memiliki “kecurigaan kuat dan masuk akal terhadap perilaku Amerika.”
Ketegangan psikologis ini nyatanya hampir berujung petaka. Pada Selasa lalu, Trump mengungkapkan fakta mengejutkan bahwa dirinya sempat hanya berjarak satu jam dari keputusan memerintahkan serangan bom baru ke Iran, setelah menerima desakan dan permintaan bantuan keamanan dari sejumlah negara sekutu di kawasan Teluk.
Langkah tersebut tertahan karena Iran mengajukan proposal baru pekan ini. Sayangnya, isi proposal tersebut dinilai AS masih mengulang tuntutan lama yang mustahil dikabulkan, termasuk tuntutan ganti rugi kompensasi perang, pencairan aset yang dibekukan, hingga penarikan total pasukan militer AS dari Timur Tengah.
Data Perkembangan Konflik dan Pasar Energi
Berikut adalah rangkuman eskalasi konflik serta dampaknya terhadap sektor komoditas energi global saat ini:
Tabel Perkembangan Utama Konflik AS-Iran
| Isu | Perkembangan |
| Ancaman Trump | AS siap lanjutkan serangan jika Iran menolak damai. |
| Tenggat Waktu | Trump bersedia menunggu “beberapa hari”. |
| Respons Iran | Ancam perang regional yang lebih luas dari sebelumnya. |
| Selat Hormuz | Iran membentuk otoritas baru untuk mengendalikan lalu lintas pelayaran. |
| Negosiasi | Pakistan bertindak sebagai mediator dan pembawa pesan. |
| Tuntutan Iran | Cabut sanksi ekonomi, buka blokade, dan cairkan aset negara yang dibeku. |
| Sikap AS | Tetap menolak keras dan tidak akan membiarkan Iran memiliki senjata nuklir. |
Tabel Dampak Konflik terhadap Pasar Energi
| Faktor | Dampak |
| Ketegangan Hormuz | Risiko tinggi terjadinya gangguan pada pasokan minyak bumi global. |
| Harga Brent | Mengalami penurunan 5,63% ke level US$ 105,02 per barel. |
| Lalu Lintas Kapal | Mulai menunjukkan peningkatan mobilitas dibandingkan pekan sebelumnya. |
| Kapal Tanker China | Dua unit kapal tanker dilaporkan berhasil membawa 4 juta barel minyak keluar dari Hormuz. |
| Kekhawatiran Pasar | Para investor terus memantau dengan ketat peluang tercapainya kesepakatan damai. |
Editor : Alysa
Sumber : Berbagai Sumber














