Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) Laporkan Kasus Ebola Meningkat, Peringatan Wabah Darurat Internasional

0
WHO
Logo kesehatan dunia World Health Organization (WHO). Foto : logos-world.net

NARASITODAY.COM, JENEWAOrganisasi Kesehatan Dunia (WHO) melaporkan lonjakan mengejutkan dengan 600 dugaan kasus Ebola dan 139 dugaan kematian akibat virus tersebut pada Rabu (20/5/2026). Angka maut ini diperkirakan akan terus merangkak naik mengingat virus mematikan tersebut telah menyebar luas di wilayah padat penduduk sebelum sempat terdeteksi oleh otoritas kesehatan.

Merespons situasi kritis ini, Komite Darurat WHO langsung menggelar pertemuan mendesak pada Selasa lalu di Jenewa, Swiss. Hasilnya, WHO menetapkan bahwa wabah Ebola dengan strain Bundibugyo yang langka ini merupakan darurat kesehatan masyarakat internasional. Kendati demikian, statusnya belum dikategorikan sebagai darurat pandemi.

WHO menilai risiko wabah ini tinggi di tingkat nasional dan regional, namun rendah di tingkat global,” ujar Direktur Jenderal WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus.

Keputusan deklarasi darurat tersebut diambil langsung oleh Tedros pada akhir pekan lalu. Langkah ini menjadi momen bersejarah sekaligus menegangkan, karena untuk pertama kalinya seorang kepala WHO mengambil keputusan darurat tanpa berkonsultasi terlebih dahulu dengan para ahli akibat urgensi situasi di lapangan yang dinilai sudah sangat genting.

Baca Juga :  Restrukturisasi Google Terus Berlanjut, Ratusan Pekerja Terimbas PHK Tahun 2025

Berpacu dengan Waktu di Zona Konflik

Di garis depan pertempuran melawan virus, para petugas medis kini harus berkejaran dengan waktu, menembus wilayah-wilayah yang tidak hanya padat tetapi juga dicekam oleh kekerasan bersenjata. Kepala unit darurat WHO, Chikwe Ihekweazu, memaparkan fokus utama timnya saat ini dalam sebuah konferensi pers resmi.

“Prioritas mutlak kami saat ini adalah mengidentifikasi seluruh rantai penularan yang ada agar kami dapat menentukan skala wabah dan memberikan perawatan yang tepat,” kata Chikwe Ihekweazu.

Kekhawatiran mendalam kini membayangi para ahli kesehatan global. Wilayah yang terinfeksi saat ini merupakan lokasi yang sama dengan tragedi wabah Ebola strain Zaire pada periode 2018–2020 silam, yang kala itu merenggut hampir 2.300 nyawa dan tercatat sebagai salah satu wabah paling mematikan kedua dalam sejarah.

Kini, ancaman datang dari strain Bundibugyo yang tidak kalah mengerikan. Menurut data WHO, strain langka ini menular melalui kontak langsung dengan cairan tubuh orang atau hewan yang terinfeksi, dengan tingkat kematian rata-rata mencapai 40%.

Sejauh ini, WHO telah mengonfirmasi 51 kasus di provinsi utara Kongo, yaitu Ituri dan North Kivu. Ganasnya penularan bahkan telah melintasi batas negara; Uganda melaporkan dua kasus terkonfirmasi di ibu kota Kampala, termasuk satu kematian dari warga yang melakukan perjalanan dari Kongo. Selain warga lokal, seorang pekerja medis asal AS di Kongo juga dinyatakan positif dan kini telah dievakuasi ke Jerman untuk perawatan intensif.

Baca Juga :  Kecelakaan Rem Mendadak, Pemotor di Bogor Alami Luka dan Jalan Macet Parah

Jejak ‘Super-Spreader’ di Balik Kabut Misteri

Penyelidikan epidemiologi menunjukkan bahwa wabah ini kemungkinan besar telah bermula beberapa bulan lalu, dengan dugaan kematian pertama terjadi pada 20 April 2026. Berawal dari satu kematian misterius yang gejalanya menyerupai malaria tersebut, virus bergerak cepat dan senyap melalui peristiwa super-spreader (penularan massal) yang terjadi di upacara pemakaman adat serta fasilitas kesehatan setempat.

Tabir misteri ini baru mulai terkuak pada 5 Mei, ketika laporan kematian berantai di komunitas lokal ramai beredar di media sosial. Seminggu kemudian, pada 12 Mei, pemerintah bersama WHO bergerak cepat mengirim tim investigasi untuk mengumpulkan sampel medis. Hasilnya mengerikan yaitu dimana dari 13 sampel awal yang diambil, delapan di antaranya positif Ebola.

Baca Juga :  Musim Hujan Tiba! Berikut 5 Tips Jaga Kesehatan Menjelang Perayaan Nataru

Tedros Adhanom Ghebreyesus menekankan bahwa karakteristik strain Bundibugyo yang langka ini sangat sulit dideteksi melalui pengujian biasa. Kerumitan ini kian diperparah oleh kondisi geografis yang luluh lantak akibat konflik bersenjata, sehingga membatasi ruang gerak tim medis untuk melokalisasi wabah sejak dini.

Di sisi lain, keterlambatan deteksi ini memicu kritik tajam dari sejumlah pengamat kesehatan. Mereka menilai mundurnya respons awal merupakan dampak nyata dari adanya celah kesiapsiagaan akibat pemotongan dana kesehatan secara besar-besaran oleh AS dan donor global lainnya baru-baru ini.

Menanggapi tudingan tersebut, Tedros memilih bersikap hati-hati. Ia menegaskan bahwa saat ini terlalu dini untuk menyimpulkan apakah pemotongan dana di Kongo atau WHO turut memengaruhi keterlambatan deteksi atau respons terhadap wabah.

Tantangan terbesar yang dihadapi dunia saat ini adalah nihilnya tameng medis. Hingga detik ini, belum ada vaksin yang tersedia untuk strain Bundibugyo. Meski WHO menyebut ada dua kandidat vaksin yang sedang dipertimbangkan, proses pengembangannya diprediksi memakan waktu tiga hingga sembilan bulan dan masih harus melewati serangkaian uji klinis yang ketat.***

Editor : Alysa

Sumber : Berbagai Sumber