Serangan Drone di Kalogi Sudan Tewaskan Puluhan Warga Sipil, Termasuk Anak-anak

0
serangan
Tragedi kemanusiaan kembali mengguncang Sudan setelah serangan drone menghantam kota Kalogi, Kordofan Selatan, menewaskan sedikitnya 79 warga sipil 43 di antaranya anak-anak.Foto : metrotvnews.com

NARASITODAY.COM, KHARTOUMSudan kembali dilanda tragedi kemanusiaan setelah puluhan warga sipil, termasuk sejumlah besar anak-anak, tewas akibat serangan pesawat nirawak (drone) di kota Kalogi, Kordofan Selatan, Kamis lalu.

Serangan biadab ini tidak hanya menghantam target militer, melainkan juga fasilitas sipil yang dilindungi: taman kanak-kanak, rumah sakit, dan kerumunan warga yang tengah berupaya mengevakuasi para korban.

Peristiwa ini menggarisbawahi eskalasi konflik yang mengerikan antara militer Sudan dan Pasukan Dukungan Cepat (RSF) yang telah berlangsung sejak April 2023. Konflik ini telah merenggut puluhan ribu nyawa dan memaksa hampir 12 juta warga mengungsi.

Baca Juga :  Siap Taklukkan Puncak! Ikuti 5 Tips Ini Agar Terhindar dari Kram Otot Saat Mendaki

Kepala Unit Administrasi Kalogi, Essam al-Din al-Sayed, memberikan kesaksian mencekam melalui koneksi satelit Starlink mengenai urutan serangan yang terjadi.

Serangan pertama menghantam taman kanak-kanak, lalu rumah sakit, dan ketiga saat orang-orang mencoba menyelamatkan anak-anak,” kata Essam al-Din al-Sayed, dikutip media lokal, Senin (8/12/2025).

Al-Sayed menuding Pasukan Dukungan Cepat (RSF) dan sekutunya, faksi SPLM-N pimpinan Abdelaziz al-Hilu yang menguasai sebagian besar Kordofan Selatan sebagai pelaku serangan brutal tersebut.

Kementerian Luar Negeri Sudan menyebut total korban tewas mencapai 79 orang, termasuk 43 anak. Angka ini diperkuat oleh laporan dari PBB.

Baca Juga :  Eksplorasi Tantangan Krisis Air Melalui Seni di Constellations H20

Dampak serangan terhadap anak-anak memicu kecaman keras dari lembaga internasional. UNICEF melaporkan bahwa lebih dari 10 anak berusia antara 5 hingga 7 tahun tewas dalam serangan tersebut, yang menargetkan tempat pendidikan mereka.

Perwakilan UNICEF untuk Sudan, Sheldon Yett, menegaskan pelanggaran moral dan hukum yang terjadi.

“Membunuh anak-anak di sekolah mereka merupakan pelanggaran hak anak yang mengerikan,” ujar Sheldon Yett, menyerukan penghentian serangan dan pembukaan akses bantuan kemanusiaan.

Kordofan, sebagai salah satu wilayah strategis dengan cadangan minyak, kini menjadi pusat kekerasan. Sejak RSF merebut kota El-Fasher pada akhir Oktober, kekerasan meningkat drastis. PBB mencatat laporan pembunuhan massal, kekerasan seksual, penculikan, hingga penjarahan di kawasan tersebut.

Baca Juga :  Pengusaha Buah Thailand Tewas Ditembak, Pelaku Ditangkap gegara Utang Sound System

Secara keseluruhan, PBB mencatat setidaknya 269 warga sipil tewas di Kordofan Utara sejak 25 Oktober akibat serangan udara, artileri, maupun eksekusi singkat. Dalam insiden lain pekan lalu, serangan drone militer terhadap basis SPLM-N di Kauda juga menewaskan sedikitnya 48 orang.

Kedua belah pihak, militer dan RSF, saling tuduh melakukan serangan drone dan memblokir jalur bantuan, menambah kompleksitas konflik di lapangan yang sulit diverifikasi karena akses terbatas dan keamanan yang memburuk.***

Editor : Alysa

Sumber : Berbagai Sumber