NARASITODAY.COM, JAKARTA – Kesehatan mental remaja kembali menjadi sorotan setelah berbagai laporan global menunjukkan peningkatan kasus depresi, kecemasan, hingga stres pada kelompok usia muda. Di tengah meningkatnya tekanan akademik, paparan media sosial, dan perubahan sosial yang cepat, penelitian terbaru mengungkapkan bahwa peran orang tua ternyata memiliki dampak besar terhadap kondisi emosional remaja.
WHO mencatat bahwa lebih dari 1 miliar orang di dunia terdampak masalah kesehatan mental, dan remaja termasuk kelompok yang paling rentan. Bahkan, untuk usia 15–29 tahun, bunuh diri menjadi penyebab kematian terbesar ketiga.
Sebuah riset yang dilakukan di Nepal dan dipublikasikan di jurnal PLOS One meneliti lebih dari 500 remaja. Hasilnya mencengangkan: lebih dari 40 persen remaja mengalami kecemasan, sementara sepertiga lainnya menunjukkan gejala depresi dan stres. Namun yang menarik, para peneliti menemukan kaitan kuat antara gaya pengasuhan orang tua dan kondisi mental anak.
Mayoritas responden mengatakan orang tua mereka menerapkan gaya pengasuhan otoritatif, yaitu hangat tetapi tetap tegas. Jenis pengasuhan ini terbukti paling protektif karena menurunkan risiko depresi, kecemasan, dan stres sekaligus meningkatkan harga diri remaja. Sebaliknya, gaya pengasuhan otoriter—yang cenderung keras dan penuh tuntutan—dikaitkan dengan meningkatnya depresi dan rendahnya kepercayaan diri. Gaya permisif, yang terlalu membebaskan, juga tidak lebih baik karena berhubungan dengan tingginya tingkat stres.
Selain lingkungan keluarga, sekolah juga berperan penting. Remaja yang menjadi korban bullying atau tidak memiliki hubungan sosial yang kuat di sekolah menunjukkan tingkat masalah mental yang lebih tinggi.
Peneliti menekankan pentingnya dukungan kepada orang tua untuk menerapkan pola asuh yang sehat serta perlunya program kesehatan mental di sekolah, termasuk layanan konseling dan intervensi anti-bullying. (MG3)
Editor : Mutiara
Sumber : detikedu














