
NARASITODAY.COM, BOGOR – Sejumlah orang yang diduga oknum wartawan nyaris menjadi sasaran amukan massa di Desa Sadeng, Kecamatan Leuwisadeng, Kabupaten Bogor, kejadian itu terjadi pada Sabtu malam (13/12/2025).
Kelompok tersebut yang berjumlah sekitar 8 orang diduga mengaku sebagai aparat negara dan melakukan upaya pemerasan terhadap warga.
Informasi yang dihimpun menyebutkan, kelompok tersebut datang menggunakan tiga unit mobil dan mendatangi kediaman warga.
Salah seorang warga bernama Irfan menuturkan, awalnya ia mendapati tamu mencurigakan dan mencoba menanyakan identitas mereka.
“Awalnya ada tamu, tiga mobil. Saya samperin dan saya tanya mereka dari mana. Mereka mengaku dari Intel Kostrad dan Polda Jabar,” ujarnya. Senin (15/12/2025).
Namun saat diminta menunjukkan kartu tanda anggota (KTA), kelompok tersebut tidak mampu memperlihatkannya. Bahkan hingga aparat Babinsa tiba di lokasi dan melakukan klarifikasi, jawaban mereka dinilai berbelit-belit.
Kegeraman warga semakin memuncak setelah beredar kabar bahwa kelompok yang sama sebelumnya diduga telah melakukan pemerasan terhadap seorang pengusaha di wilayah Cigudeg dengan modus serupa, yakni mengaku sebagai aparat penegak hukum. Disebutkan, korban di Cigudeg telah menyerahkan uang hingga Rp40 juta.
“Kalau dari awal mereka jujur bilang dari media, warga juga tidak akan resah. Tapi mereka mengaku dari satgas penertiban tambang, bukan sebagai wartawan,” bebernya.
Ia juga mengungkapkan, kelompok tersebut sempat menyinggung berbagai tuduhan kepada aktivitas warga Sadeng, mulai dari oli palsu, narkoba, hingga aktivitas gurandil (penambangan liar), yang menurut warga sudah tidak ada lagi di wilayah tersebut.
Bahkan, dalam upaya penyelesaian, Irfan mengaku sempat menawarkan uang Rp10 juta, namun ditolak.
“Dia malah minta Rp20 juta sampai Rp50 juta, dengan alasan uang penyelesaian,” katanya.
Sementara itu, Kepala Dusun (Kadus) 1 Desa Sadeng, Willy Santosa, membenarkan adanya kejadian tersebut.
Ia mengaku mendapat informasi dari warga terkait dugaan pemerasan, lalu segera mendatangi lokasi.
“Saat saya datang, kondisinya sudah chaos. Saya langsung menjemput Bhabinkamtibmas dan tidak lama kemudian anggota Polsek serta Danramil juga hadir,” ungkapnya.
Menurutnya, situasi saat itu cukup sulit dikendalikan karena emosi warga sudah memuncak. Namun, berkat upaya mediasi dan pengamanan dari aparat, situasi berhasil diredam.
“Alhamdulillah, oknum yang mengaku aparat tersebut segera dievakuasi, ke Polsek Leuwiliang untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan,” jelasnya.
Willy menegaskan bahwa tuduhan-tuduhan yang dilontarkan kelompok tersebut terkait oli palsu, narkoba, maupun aktivitas tambang ilegal tidak benar.
“Semua tuduhan itu tidak benar dan saya juga kaget mendengarnya,” pungkasnya.***
Wartawan : Andreas













