NARASITODAY.COM, KOPENHAGEN – Angin dingin dari Arktik membawa ketegangan diplomatik yang kian membara ke ibu kota Denmark di awal tahun 2026. Aliansi lama antara Kopenhagen dan Washington kini berada di persimpangan jalan yang retak, menyusul langkah agresif Amerika Serikat di bawah kepemimpinan Donald Trump untuk mengakuisisi Greenland.
Pemicu utama kemarahan Denmark adalah penunjukan Gubernur Louisiana, Jeff Landry, sebagai utusan khusus untuk Greenland oleh Presiden Trump. Langkah ini dipandang bukan sekadar diplomasi, melainkan upaya mempertegas ambisi lama Washington yang mengeklaim “membutuhkan” pulau terbesar di dunia itu demi sumber daya mineral dan keamanan nasional.
Perdana Menteri Denmark, Mette Frederiksen, memilih momen pergantian tahun untuk mengirimkan pesan pembangkangan yang tegas. Berbicara dari kediaman resminya pada Kamis (1/1/2026), Frederiksen mengecam tekanan yang dianggap merendahkan martabat bangsa.
Tanpa basa-basi, ia mengkritik ide akuisisi negara lain sebagai pola pikir kuno yang tidak punya tempat di abad modern.
“Tentang keinginan untuk mengambil alih negara lain, bangsa lain seolah-olah itu adalah sesuatu yang bisa dibeli dan dimiliki,” tegas Frederiksen. “Bukan kami yang mencari konflik. Namun, jangan biarkan siapa pun ragu: apa pun yang terjadi, kami akan berdiri teguh pada apa yang benar dan salah.”
Nada perlawanan juga datang dari Istana. Dalam pidato malam tahun barunya, Raja Frederik X secara simbolis memuji ketangguhan rakyat Greenland. Ia menyoroti peningkatan latihan militer di wilayah Arktik sebagai respons atas meningkatnya suhu politik di wilayah tersebut.
Di sisi lain, Washington tidak menunjukkan tanda-tanda mundur. Pada konferensi pers Desember lalu, Trump terang-terangan menyebut lokasi strategis Greenland sangat krusial. Jeff Landry, sang utusan baru, bahkan secara terbuka menyatakan ambisinya untuk “menjadikan Greenland bagian dari AS.”
Respons diplomatik Denmark berlangsung cepat dan tajam. Menteri Luar Negeri Lars Lokke Rasmussen menyebut penunjukan utusan AS tersebut “sama sekali tidak dapat diterima” dan segera memanggil duta besar AS.
Krisis ini mencapai titik nadir setelah dinas intelijen Denmark merilis laporan mengejutkan yang kini menempatkan Amerika Serikat rekan sesama anggota NATO sebagai potensi ancaman keamanan nasional.
Laporan intelijen tersebut menyatakan bahwa Washington kini “menggunakan kekuatan ekonomi, termasuk dalam bentuk ancaman tarif tinggi, untuk memaksakan kehendaknya dan tidak lagi mengesampingkan penggunaan kekuatan militer, bahkan terhadap sekutunya sendiri.”
Kini, wilayah utara yang biasanya tenang berubah menjadi medan catur politik tingkat tinggi, di mana Kopenhagen bersumpah tidak akan membiarkan Greenland menjadi “barang dagangan” bagi ambisi kekuatan besar.***
Editor : Alysa
Sumber : cnbcindonesia.com














