Eks Jenderal AU Filipina Ditangkap di Bandara, Dituduh Hasut Militer Lawan Marcos Jr.

0
militer
Ilustrasi Militer Filipina. Foto : ipdefenseforum.com

NARASITODAY.COM, MANILA – Pesawat di Bandara Internasional Manila pada Senin (5/1/2026) pagi menjadi latar belakang drama penangkapan seorang mantan petinggi militer. Romeo Poquiz, mantan jenderal Angkatan Udara (AU) Filipina berusia 67 tahun, diringkus otoritas sesaat setelah menginjakkan kaki kembali di tanah airnya usai penerbangan dari Bangkok, Thailand.

Penangkapan ini memicu ketegangan politik baru di Filipina, di mana garis antara kritik keras dan “penghasutan” kini menjadi perdebatan hangat di ruang publik.

Poquiz ditangkap atas tuduhan serius: mencoba menggoyahkan stabilitas pemerintahan Presiden Ferdinand Marcos Jr. melalui seruan agar militer menarik dukungan mereka. Sekretaris Departemen Dalam Negeri, Jonvic Remulla, mengonfirmasi bahwa langkah hukum ini dipicu oleh pernyataan-pernyataan publik sang jenderal purnawirawan.

Baca Juga :  Roda Depan Boeing 787 Lufthansa Ambruk di Bandara Frankfurt, Sejumlah Staf Terluka

“Dia ditangkap atas tuduhan penghasutan terkait pernyataannya baru-baru ini,” tegas Remulla melalui pesan teks kepada awak media.

Meski telah diamankan dan dibawa ke markas besar kepolisian Camp Crame, semangat perlawanan Poquiz tampaknya belum padam. Melalui unggahan di Facebook, ia mengabarkan sendiri penangkapannya kepada publik.

“Saya ditangkap oleh Kelompok Investigasi dan Deteksi Kriminal Kepolisian Nasional Filipina di terminal bandara. Hidup rakyat Filipina!” tulis Poquiz singkat namun provokatif.

Di sisi lain, pengacara Poquiz, Ferdinand Topacio, mengecam keras tindakan pemerintah. Ia menilai kliennya hanyalah seorang warga negara yang sedang menyuarakan keresahan atas tata kelola negara, bukan sedang memimpin pemberontakan bersenjata.

Baca Juga :  Bentrok di Perbatasan Thailand-Kamboja Picu Ketegangan Baru, Puluhan Warga Dilaporkan Terluka

“Ini bukan seruan pemberontakan, melainkan diskusi mengenai kemungkinan konsekuensi dari penyelewengan dan korupsi,” kata Topacio.

Ia menambahkan dengan nada menyindir bahwa penangkapan ini memberikan sinyal yang salah kepada rakyat. “Ini justru menunjukkan bahwa pemerintah mengecam mereka yang berbicara tentang kesalahan, bukan mereka yang mencuri uang rakyat.”

Namun, militer Filipina memiliki pandangan berbeda. Kepala Staf Angkatan Bersenjata, Jenderal Romeo Brawner, mengungkapkan adanya upaya sistematis untuk mendekati para perwira muda guna membentuk “kudeta atau junta militer”. Brawner menegaskan bahwa militer tetap “kokoh” mendukung konstitusi dan menolak mentah-mentah ajakan kelompok pensiunan pimpinan Poquiz.

Baca Juga :  Kesaksian Anak Korban, Detik-Detik Penemuan Jenazah Orang Tuanya di Sungai Cisarua

Penangkapan Poquiz terjadi di tengah mendidihnya suhu politik Filipina menjelang protes besar anti-korupsi yang dijadwalkan pada 21 September mendatang. Kemarahan publik dipicu oleh dugaan skandal proyek pengendalian banjir fiktif yang nilainya ditaksir mencapai lebih dari Rp100 triliun (miliaran dolar AS).

Menariknya, meski isu korupsi ini sempat disoroti oleh Presiden Marcos Jr. pada pidato kenegaraannya Juli lalu, sang presiden memilih bungkam terkait penangkapan Poquiz saat menghadiri acara penandatanganan anggaran nasional pada Senin sore.***

Editor : Alysa

Sumber : cnbcindonesia.com