NARASITODAY.COM, GROBOGAN – Harapan akan santapan sehat melalui program Makan Bergizi Gratis (MBG) berubah menjadi duka bagi ratusan warga di Kecamatan Gubug, Kabupaten Grobogan. Hingga Selasa pagi, Dinas Kesehatan setempat mencatat angka terdampak yang terus membengkak, mencapai total 803 orang.
Peristiwa yang bermula sejak Jumat (9/1/2026) lalu ini menyisakan jejak trauma bagi para siswa dan warga. Kursi-kursi sekolah yang kosong menjadi saksi bisu serangan gejala mual dan muntah yang menyerang secara masif.
“Total terdampak 803 (orang),” ungkap Kepala Dinas Kesehatan Grobogan, Djatmiko, saat memberikan konfirmasi terbaru pada Selasa (13/1/2026).
Mimpi buruk ini dimulai beberapa jam setelah nampan-nampan makanan MBG dibagikan. Memasuki Jumat malam, satu per satu siswa mulai mengeluhkan kondisi tubuh mereka. Puncaknya terjadi pada akhir pekan, saat deretan absensi sekolah dipenuhi keterangan sakit.
“Jumat malam ternyata kok ada puluhan (siswa) mual, muntah, ada yang diare. Kemudian hari Sabtu tadi teman-teman melakukan pengecekan, pemeriksaan di lapangan. Sabtunya banyak yang enggak masuk (sekolah),” kenang Djatmiko mengenai awal mula kepanikan tersebut.
Hingga saat ini, sebagian besar korban memang telah melewati masa kritis. Tim medis bekerja ekstra keras, baik di puskesmas maupun posko kesehatan di pondok pesantren, untuk menangani gelombang pasien yang datang silih berganti.
“Sudah sembuh, dari awal ya itu, jadi pengobatan di puskesmas, atau di tempat pondok, atau yang berobat di beberapa tempat itu kan jumlahnya 803 (orang) dan sudah dinyatakan membaik, sembuh, 688 (orang),” jelas Djatmiko merinci data kesembuhan.
Meski demikian, lorong-lorong rumah sakit masih belum sepenuhnya sepi. Dari ratusan orang yang terdampak, seratusan orang terpaksa harus menjalani rawat inap karena kondisi fisik yang melemah drastis akibat dehidrasi dan infeksi.
“Dari 803 (orang) itu ternyata kan ada yang dirawat inap, ada 115 (orang). Hari ini sudah dinyatakan 61 (orang) sembuh, tinggal 54 (orang) yang masih perawatan,” pungkasnya.
Pemerintah daerah kini tengah mendalami penyebab pasti di balik dugaan keracunan massal ini. Fokus utama penyelidikan tertuju pada paket makanan yang dibagikan tepat sebelum gejala muncul serentak.
“Informasinya kan ini (diduga keracunan dari) makan MBG yang hari Jumat,” kata Djatmiko.
Hingga berita ini diturunkan, sisa sampel makanan telah dibawa untuk uji laboratorium. Di sisi lain, masyarakat berharap evaluasi total dilakukan agar program yang bertujuan memperbaiki gizi anak bangsa ini tidak lagi berujung pada ranjang rumah sakit.***
Editor : Alysa
Sumber : detik.com














