Inggris dan Jerman Susun Rencana Darurat Hadapi Ambisi Trump di Greenland

0
Greenland
Ilustrasi Peta Greenland pada rambu lalu lintas.Foto : Istock

NARASITODAY.COM, LONDON – Di tengah hamparan es abadi Greenland yang sunyi, sebuah badai geopolitik baru saja meledak. Dua raksasa NATO, Inggris dan Jerman, kini dilaporkan tengah berpacu dengan waktu untuk menyusun rencana darurat guna membentengi wilayah otonom Denmark tersebut dari ambisi akuisisi Presiden Amerika Serikat, Donald Trump.

Langkah defensif ini diambil setelah Trump melontarkan pernyataan provokatif yang mengguncang stabilitas aliansi transatlantik. Ia menegaskan bahwa AS akan mengambil alih pulau terbesar di dunia itu, “suka atau tidak suka,” bahkan jika harus menggunakan kekuatan militer.

Melansir laporan Bloomberg dan The Telegraph, Berlin dan London berupaya memperkuat kehadiran NATO di wilayah Kutub Utara guna mematahkan argumen keamanan yang digunakan Gedung Putih. Jerman bahkan telah mengusulkan misi bersama NATO bertajuk ‘Arctic Sentry’ sebagai simbol kedaulatan Eropa di utara.

Baca Juga :  Rudal Iran Bidik Diego Garcia, Trump Ultimatum 48 Jam Buka Selat Hormuz

Menteri Luar Negeri Jerman, Johann Wadephul, dijadwalkan akan mengonfrontasi isu krusial ini dalam pertemuan dengan Menteri Luar Negeri AS, Marco Rubio, pekan ini.

“Saya ingin mendiskusikan dalam perjalanan saya bagaimana kita bisa memikul tanggung jawab ini dengan sebaik-baiknya di NATO,” ujar Wadephul kepada awak media, Minggu (11/1/2026).

Baca Juga :  Pemerintahan Trump Dorong Kesepakatan Strategis untuk Perkuat Industri Domestik

Sementara itu, di London, pejabat Inggris dikabarkan telah bergerak cepat dengan menemui perwakilan Prancis untuk mematangkan strategi. Opsi yang dibahas mencakup peningkatan latihan militer, pertukaran intelijen, hingga kemungkinan pengerahan pasukan skala penuh ke Greenland.

Ketegangan ini mencapai puncaknya setelah Trump pada Sabtu lalu memperingatkan akan menggunakan “cara keras” untuk menguasai Greenland. Baginya, pulau tersebut adalah bidak catur strategis yang wajib dikendalikan AS untuk membendung pengaruh Rusia dan China di Arktik.

Namun bagi Eropa, ancaman ini adalah serangan terhadap jantung aliansi mereka sendiri. Perdana Menteri Denmark, Mette Frederiksen, bersama para pemimpin Eropa lainnya memberikan peringatan keras bahwa serangan militer terhadap sesama anggota NATO akan membuat aliansi tersebut menjadi usang dan tidak lagi relevan.

Baca Juga :  Krisis Venezuela Semakin Memanas, Kolombia Mendukung Transisi dan Dialog Diplomatik

Meski laporan menyebutkan adanya tawaran insentif finansial bagi penduduk lokal, bayang-bayang militer tetap menghantui. Laporan terbaru bahkan mengindikasikan bahwa Trump telah memerintahkan komandan senior militer AS untuk menyusun rencana potensi invasi.

Kini, nasib Greenland berada di ujung tanduk diplomasi. Apakah ‘Arctic Sentry’ mampu meredam ambisi Washington, ataukah wilayah sunyi di Kutub Utara ini akan menjadi saksi pecahnya aliansi militer terbesar di dunia?***

Editor : Alysa

Sumber : cnbcindonesia.com