
NARASITODAY.COM, JENEWA – Ruang-ruang sidang di Markas PBB Jenewa kini diselimuti ketegangan. Sebuah dokumen yang beredar pada Selasa (20/1/2026) memastikan bahwa Dewan Hak Asasi Manusia PBB akan menggelar sidang darurat pada Jumat (23/1/2026) mendatang. Langkah luar biasa ini diambil sebagai respons atas gelombang protes di Iran yang kini berubah menjadi tragedi kemanusiaan yang memilukan.
Di balik dinding-dinding diplomatik, angka-angka yang muncul sangat mengerikan. Seorang pejabat Iran mengonfirmasi bahwa otoritas setempat telah memverifikasi sedikitnya 5.000 kematian dalam rangkaian protes yang disebut sebagai demonstrasi terbesar sejak tahun 2022. Angka ini bukan sekadar statistik, melainkan potret eskalasi kekerasan yang memicu kemarahan global.
Kepala HAM PBB, Volker Turk, mengecam keras tindakan aparat keamanan, sementara desakan dari negara-negara Barat semakin menguat. Dukungan untuk sidang ini dimotori oleh koalisi yang dipimpin oleh Islandia, Jerman, dan Inggris.
Duta Besar Islandia untuk PBB, Einar Gunnarsson, menegaskan bahwa dunia tidak bisa lagi sekadar menonton.
“Sidang khusus diperlukan karena pentingnya dan urgensi situasi ini, khususnya karena adanya laporan-laporan kredibel mengenai kekerasan yang mengkhawatirkan, penindakan terhadap para pengunjuk rasa, serta pelanggaran hukum hak asasi manusia internasional di seluruh negeri,” tulis Gunnarsson dalam surat resminya.
Hingga saat ini, sebanyak 21 negara telah menyatakan dukungan resmi agar sidang tersebut segera dilaksanakan.
Namun, di koridor diplomasi, Iran memberikan perlawanan narasi. Sejumlah diplomat mengungkapkan bahwa Teheran telah menyebarkan dokumen bantahan ke berbagai perwakilan negara. Mereka menolak tuduhan penindakan brutal dan mengklaim bahwa bentrokan pecah akibat serangan bersenjata terhadap pasukan keamanan.
Di sisi lain, organisasi seperti Human Rights Watch mendesak agar mekanisme penyelidikan PBB yang dibentuk sejak 2022 diberikan mandat lebih luas serta tambahan dana untuk mengusut “pembunuhan massal” ini.
Bagi para aktivis, sidang Jumat mendatang bukan sekadar prosedur birokrasi, melainkan simbol perlindungan bagi mereka yang turun ke jalan di Teheran dan kota-kota lainnya.
Glenn Payot dari Impact Iran, koalisi yang terdiri dari 19 organisasi nonpemerintah, menyatakan bahwa ini adalah momen pembuktian bagi hukum internasional.
“Sidang ini akan menjadi pesan kepada otoritas Iran bahwa pertumpahan darah dan penindasan terhadap suara-suara yang berbeda pendapat harus dihentikan, dan bahwa mereka sedang diawasi,” tegas Payot.
Ia menambahkan, “Sidang ini juga akan menjadi kesempatan bagi komunitas negara-negara untuk menunjukkan dukungan global terhadap hak seluruh rakyat Iran untuk melakukan protes secara damai dan menyuarakan pendapat mereka tanpa rasa takut akan pembalasan atau kekerasan.”
Saat Jumat tiba, mata dunia akan tertuju pada Jenewa, menanti apakah tekanan diplomatik ini mampu menghentikan deru kekerasan di tanah Iran.***
Editor : Alysa
Sumber : cnbcindonesia.com













