NARASITODAY.COM, LONDON – Kabut ketidakpastian ekonomi kian tebal menyelimuti tanah Britania. Laporan terbaru mengenai kondisi pasar tenaga kerja menunjukkan Inggris tengah berjuang melawan krisis setelah angka pengangguran bertahan di level tertingginya dalam hampir lima tahun terakhir. Gelombang pemangkasan hubungan kerja (PHK) oleh perusahaan-perusahaan besar kini menjadi potret buram di balik etalase ekonomi London.
Berdasarkan data resmi dari Kantor Statistik Nasional (ONS) yang dirilis Selasa (20/1), tingkat pengangguran Inggris memaku di angka 5,1 persen hingga akhir tahun lalu. Angka ini tidak bergeming dari kuartal sebelumnya, mencerminkan sikap hati-hati para pelaku usaha yang mulai melakukan efisiensi besar-besaran.
Sektor swasta menjadi pihak yang paling terdampak. Banyak perusahaan memilih mengurangi jumlah karyawan sebagai langkah antisipasi terhadap kenaikan pajak yang diumumkan dalam anggaran pemerintah Partai Buruh pada akhir November lalu. Ketidakpastian fiskal ini rupanya telah memaksa para pengusaha untuk menarik rem darurat pada pengeluaran tenaga kerja mereka.
Direktur statistik ekonomi ONS, Liz McKeown, menyoroti adanya kesenjangan yang semakin lebar antara upah di sektor swasta dan publik.
“Laju pertumbuhan upah sektor swasta turun ke titik terendah dalam lima tahun, sementara kenaikan upah di sektor publik masih berada pada level tinggi,” ujar Liz McKeown, dikutip dari AFP.
Kondisi ini menempatkan Bank of England (BoE) dalam posisi yang sulit. Di satu sisi, pasar tenaga kerja yang lesu membutuhkan stimulus melalui penurunan suku bunga. Namun di sisi lain, BoE harus menanti data inflasi Indeks Harga Konsumen (CPI) untuk Desember yang baru akan dirilis Rabu besok guna memastikan stabilitas harga.
Ashley Webb, ekonom Inggris dari lembaga riset Capital Economics, menilai bahwa kecil kemungkinan ada pelonggaran kebijakan dalam waktu dekat jika melihat data pengangguran saat ini.
“Data pengangguran ini mengindikasikan bahwa pertemuan kebijakan berikutnya pada Februari mungkin masih terlalu cepat untuk kembali memangkas suku bunga,” jelas Webb.
Meski demikian, secercah harapan tetap ada bagi para peminjam dan pelaku usaha. Jika data inflasi besok menunjukkan angka yang jauh lebih rendah dari proyeksi, Bank of England mungkin akan melunak.
“Masih ada kemungkinan peluang penurunan suku bunga pada Februari kembali terbuka,” tambah Webb memberikan catatan optimis di tengah situasi yang menantang.
Kini, perhatian para investor dan warga Inggris tertuju sepenuhnya pada rilis data inflasi besok. Bagi banyak keluarga di Inggris, keputusan suku bunga pada Februari mendatang bukan sekadar angka statistik, melainkan penentu beban hidup di tengah badai pengangguran yang belum juga reda.***
Editor : Alysa
Sumber : cnnindonesia.com














