Fenomena Siklon Tropis Jadi Ancaman Baru di Indonesia, Aceh dan Sumatera Jadi Korban Terbaru

0
Aceh dan Sumatera
BMKG mengungkap Siklon Senyari menjadi pemicu hujan ekstrem dan kerusakan masif di Aceh, menandai perubahan pola iklim yang kian nyata dan mengancam. Kesiapsiagaan dan mitigasi menjadi kunci menghadapi cuaca ekstrem ke depan.Foto : dok. Instragram BMKG

NARASITODAY.COM, JAKARTA – Langit Aceh dan Sumatera belakangan ini tidak lagi sama. Hujan yang turun bukan sekadar gerimis musiman, melainkan tumpahan air dengan intensitas ekstrem yang dipicu oleh fenomena alam yang sebelumnya dianggap langka yaitu siklon tropis.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengonfirmasi bahwa munculnya Siklon Senyari menjadi biang keladi di balik kerusakan masif yang melanda serambi Mekkah.

Dalam rapat kerja dengan Komisi V DPR RI pada Selasa (27/1/2026), Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani memaparkan fakta mengejutkan tentang perubahan pola iklim yang kini kian berani menyentuh wilayah Indonesia. Secara historis, lintasan badai tropis sangat jarang masuk ke tanah air, namun kini “benteng” itu mulai ditembus.

Baca Juga :  Dari Pangan ke Sanitasi, Kebutuhan Warga Aceh Bergeser Pasca Bencana yang Masif

“Bencana di Sumatera ini sangat jarang, tapi sekarang sudah memungkinkan terjadi di Indonesia. Dalam lima puluh lima tahun terakhir, hanya ada lima siklon yang mendekati atau masuk Indonesia, mulai dari Vamei tahun 2001 di Aceh, Cempaka, Seroja, Dahlia, terakhir di selatan Jawa, dan terbaru siklon Senyari,” kata Faisal.

“Perkawinan” Dua Badai di Langit Sumatera

Fenomena Senyari menjadi semakin destruktif karena ia tidak datang sendirian. Kehadirannya di belahan bumi utara berbarengan dengan sistem badai lain yang saling berinteraksi, menciptakan daya rusak yang berlipat ganda bagi wilayah yang dilaluinya.

“Ketika ada dua titik siklon di belahan bumi utara yang sama, dampaknya signifikan karena saling menguatkan dan meningkatkan daya rusak,” ujarnya menjelaskan fenomena langka tersebut.

Baca Juga :  Jadikan Rumah Anda Lebih Segar dengan 5 Tanaman Hias Berdaun Besar yang Tropis!

Lintasan maut Senyari terpantau bergerak dari Aceh Tamiang, menyisir pantai timur Sumatera Utara, menyeberang ke Malaysia, hingga akhirnya melebur dengan Siklon Koto. Jalur inilah yang menjelaskan mengapa Aceh Tamiang dan sekitarnya mengalami hantaman paling keras dengan intensitas hujan sangat ekstrem selama berhari-hari.

“Daerah yang paling terdampak adalah Aceh Tamiang, lalu pantai timur Sumatera Utara, sebelum akhirnya sistem ini punah setelah bergabung dengan siklon Koto,” tutur Faisal.

Melampaui Sekadar Peringatan Dini

Meski data curah hujan di Aceh tercatat jauh lebih tinggi dibanding Sumatera Utara dan Sumatera Barat, BMKG menekankan bahwa angka-angka tersebut sudah diprediksi sebelumnya. Namun, Faisal menggarisbawahi bahwa informasi di layar monitor tidak akan berarti banyak tanpa aksi nyata di lapangan.

Baca Juga :  Hindari Genangan Maut! 5 Strategi Kesehatan Booming Saat Banjir

“Kami tidak hanya memberikan peringatan dini, tapi juga menginstruksikan jajaran BMKG untuk membantu BNPB, BPBD, Basarnas, TNI, dan Polri dalam mendiseminasikan informasi hingga ke masyarakat luas agar menyiapkan mitigasinya,” tegas Faisal.

Kini, dengan pola siklon yang mulai “akrab” dengan wilayah Indonesia, kesiapan mitigasi menjadi harga mati. “Dampak terbesar memang terjadi di Aceh karena curah hujannya paling tinggi dibanding provinsi lain,” pungkasnya, mengingatkan bahwa cuaca ekstrem bukan lagi sekadar tamu tak diundang, melainkan ancaman nyata yang harus diwaspadai sejak dini.***

Editor : Alysa

Sumber : cnbcindonesia.com